Bab 1. Cita-cita yang Mulia

1 Timotius 3:1 Benarlah perkataan ini: “Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.”

 Yeremia 45:5 Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya! Sebab, sesungguhnya, Aku mendatangkan malapetaka atas segala makhluk, demikianlah firman TUHAN, tetapi kepadamu akan Kuberikan nyawamu sebagai jarahan di segala tempat ke mana engkau pergi.”

Menjadi seorang penilik jemaat adalah sebuah pekerjaan yang indah. Tidak jarang orang-orang yang menginginkan hal ini memiliki ambisi. “(hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (spt pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu; berkeinginan keras mencapai sesuatu (cita-cita dsb) – artikata.com“

Ambisi berasal dari kata latin yang berarti “mengadakan usaha untuk memajukan diri”. Di dalam ambisi mungkin saja terdapat maksud-maksud lain, yaitu supaya dilihat dan diterima oleh orang lain, supaya menjadi popular, ingin terpandang diantara orang-orang seangkatannya, untuk menguasai orang lain. Orang yang ambisius menyukai kekuatan yang dapat diberikan oleh uang dan kekuasaan. Keinginan daging seperti ini sangat dicela oleh Tuhan.  Pemimpin rohani yang benar tidak akan mencari kedudukan dengan mempromosikan dirinya.

Meskipun ambisi selalu mendapat pandangan yang negatif. Tetapi ada ambisi-ambisi yang mulia dan pantas dihargai dan patut dikejar. Jika kedua ayat pada permulaan rangkuman ini kita terima dan berpegang teguh oleh seseorang yang rindu untuk melayani Tuhan secara efektif dan menyadari potensi yang paling tinggi dalam hidupnya, maka ia tidak perlu merasa takut akan apa yang dihasilkan oleh ambisi itu.

Ada perbedaan yang sangat krusial antara orang-orang yang hidup menginginkan jabatan penilik jemaat di masa itu dengan di masa sekarang ini. Di masa sekarang kita condong melihat kepada kehormatan dan nama baik yang bisa kita dapatkan dari kedudukan sebagai pemimpin Kristen. Tetapi pada masanya Paulus, jabatan penilik jemaat bukanlah kedudukan yang mudah dan diinginkan oleh banyak orang, melainkan suatu kedudukan yang mengandung bahaya besar dan punya tanggung jawab yang berat. Tidak jarang pemimpinlah yang paling dahulu menderita, mengalami kesukaran, hinaan dan penolakan.

Perbedaan kondisi di masa itu dengan masa inilah yang membuat kepemimpinan Kristen masa kini juga menggoda orang-orang yang tidak rohani untuk menginginkan juga jabatan itu. Kenyataan itulah mengapa Yeremia menasihatkan Barukh dengan tepat, “Masakan engkau mencari hak-hal besar bagimu sendiri? Jangan mencarinya! “ Ia bukannya memperingatkan terhadap keinginan itu sendiri, melainkan terhadap keinginan yang berpusat pada diri sendiri, yaitu ”hal-hal yang besar bagimu sendiri”

Bukankah seharusnya jabatanlah yang mencari orang, dan bukan orang yang mencari jabatan? Apakah tidak berbahaya menempatkan orang yang ambisius pada suatu jabatan? Keinginan untuk menjadi besar itu sendiri tidaklah selalau merupakan dosa. Tetapi dorongannyalah yang menentukan sifat-sifatnya. Semua kita, orang percaya terpanggil untuk memaksimalkan apa yang Tuhan investasikan dalam hidup kita, tetapi Yesus mengajarkan bahwa setiap keinginan yang berpusat pada diri sendiri adalah salah. Sebaliknya keinginan yang berpusat pada Kemuliaan Allah dan kesejahteraan gerejaNya bukan saja wajar, melainkan benar-benar patut dipuji.

Kepada murid-muridNya yang ambisius Yesus dengan tegas menyatakan suatu ukuran kebesaran yang baru yang sangat bertolak bekang dengan apa yang berlaku di dunia:

  1. Markus 10:42: Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.
  2. Markus 10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.
  3. Markus 10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.“
  4. Lukas 22:27 Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.

Bukan jumlah pelayannya, tetapi jumlah orang-orang yang dilayani olehnya adalah ciri dari kebesaran dan kesiapan kepemimpinan rohani yang sesungguhnya. Kebesaran kemuliaannya sesuai dengan kebesaran pelayanan yang dilakukan dengan rendah hati. Kebesaran tidak berasal dari keadaan sekitar, melainkan sifat pembawaaan. Kebesaran sejati, kepemimpinan sejati tidak dicapai dengan cara menurunkan orang-orang untuk melayani kita, melainkan dengan memberikan diri sendiri untuk melayani mereka tanpa memperdulikan diri sendiri. Dan ini tidak dapat dialakukan tanpa pengorbanan. Pelayan sejati tidak akan memikirkan apa untungnya baginya, tetapi memberikan lebih banyak ke dalam hidup daripada apa yang diambilnya dari hidup.

Inilah standar Yesus bagi seorang pemimpin, inilah jawaban Yesus terhadap permintaan Yakobus dan Tohanes yang berkata “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” ( Ayat 37). Mereka mengingini mahkota kemuliaan, tetapi belum siap menerima mahkota duri. Mereka tertarik pada penobatan tetapi tidak kepada penyaliban. Kemuliaan hanya dicapai lewat jalan salib. No Pain No Gain.

Walaupun tidak salah untuk punya cita-cita yang besar namun keinginan untuk menjadi yang terbesar memang selalu salah. Inilah ambisi Yakobus dan Yohanes yang salah. Ambisi mereka bahkan memanipulasi rasa sayang ibu mereka untuk meminta secara kolusi kedudukan yang lebih tinggi untuk menyisihkan yang lain. Hal penting yang kita dapatkan dari ini adalah kebesaran tidak ditentukan oleh tempat dan kedudukan. Keinginan daging ini hanya dapat dibersihkan dan dibakar oleh Roh Kudus.

Salah satu ironi yang paling menonjol dalam sejarah adalah bahwa memberikan penilaian akhir seseorang tentang orang lain, sama sekali tidak memperhatikan pangkat atau gelar.” Samuel Brengle berkata. “Penilaian manusia yang terakhir menunjukkan bahwa sejarah tidak memperhatikan sama sekali pangkat atau gelar yang dicapai seseorang atau jabatan yang dipegangnya, melainkan hanya kwalitas perbuatan dan sifat pikiran serta hatinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s