Bab 2. Mencari Pemimpin-pemimpin

Mazmur 75:7-8 Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain.

Baik Allah dan manusia terus menerus mencari pemimpin. Alkitab seringkali menyebutkan bahwa Allah sedang mencari seseorang yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Bukannya banyak orang, melainkan satu orang. Bukannya satu kelompok, melainkan satu pribadi. Misalkan saja:

1 Samuel 13:14 Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”

Yeremia 4:25 Aku melihat, ternyata tidak ada manusia, dan semua burung di udara sudah lari terbang.

Yeremia 5:1 Lintasilah jalan-jalan Yerusalem, lihatlah baik-baik dan camkanlah! Periksalah di tanah-tanah lapangnya, apakah kamu dapat menemui seseorang, apakah ada yang melakukan keadilan dan yang mencari kebenaran, maka Aku mau mengampuni kota itu.

Yehezkiel 22:30 Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya.

Baik kitab suci maupun sejarah dari bangsa Israel dan sejarah gereja dapat membuktikan bahwa jika Tuhan mendapatkan seseorang yang sesuai dengan persyaratan rohaniNya, yang rela untuk membayar seluruh biaya pemuridan, maka Ia akan memakai dia sepenuhnya, meskipun ia penuh dengan kekurangan. Contoh: Musa, Gideon, Daud, Martin Luther, John Wesley, Adoniram Judson, William Carey dan banyak lagi. Namun yang menjadi catatan adalah pemimpin yang penuh pengabdian seperti ini jarang sekali. William E. Sagster mengatakan “Gereja sangat membutuhkan pemimpin-pemimpin”

Jika gereja ingin memenuhi kewajibannya terhadap generasi yang akan datang, maka kebutuhan yang sangat mendesak ialah kebutuhan seorang pemimpin yang berwibawa, yang rohani, dan yang rela berkorban. Berwibawa karena orang senang dipimpin oleh seseorang yang tahu kemana ia pergi dan yang membangkitkan kepercayaan. Rohani karena tanpa kepemimpinan yang rohani meskipun kelihatan begitu menarik dan cakap tidak akan menghasilkan apa-apa, dan menyebabkan kebobrokan moral dan rohani. Rela berkorban karena mengikuti pola hidup Kristus, yang telah memberikan diriNya menjadi suatu korban bagi seluruh dunia, dan yang telah memberikan kita teladan untuk mengikuti jejakNya. Kurangnya orang-orang seperti ini merupakan gejala satu penyakit yang telah mencekam.

Kepemimpinan seringkali dipandang sebagai akibat dari hasil bakat dan watak kepribadian, yaitu kemampuan akal, dorongan kemauan dan semangat. Ciri-ciri kepemimpinan yang sejati dapat ditemukan di dalam orang-orang yang rela berkorban demi tujuan –tujuan yang cukup luhur, sehingga menuntut ketaatan sepenuh hati dari pihak mereka. Pemimpin-pemimpin rohani tidak dihasilkan oleh pemilihan atau pengangkatan baik oleh manusia atau oleh sekelompok manusia maupun oleh konprensi atau sinode. Hanya Tuhanlah yang dapat menghasilkan pemimpin. Sekedar menduduki jabatan penting tidak serta merta membuat orang itu menjadi pemimpin, demikian juga dengan kursus kepemimpinan atau bertekad menjadi pemimpin. Cara satu-satunya adalah dengan memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin.

Wewenang rohani seringkali diberikan, tanpa diminta, kepada orang-orang yang dengan kerohanian, disiplin, kemampuan dan kerajinan dalam hidup mereka telah membuktikan bahwa mereka layak untuk menerima wewenang itu. Kepemimpinan rohani adalah sesuatu yang berasal dari Roh dan hanya dapat dianugerahkan oleh Allah. Apabila Ia melihat ada yang memenuhi syaratNya maka Ia akan mengurapi dia dengan RohNya dan memisahkannya untuk satu pelayanan tertentu (Kis9:17; 22:21).

Samuel Logan Brengle berkata

“Wewenang dan kepemimpinan rohani diperoleh bukan dengan usaha memajukan diri, melainkan dengan banyak berdoa dan air mata. Wewenang dan kepemimpinan dicapai dengan mengaku dosa, dengan menyelidiki hati dan merendahkan hati di hadapan Allah; dengan menyerahkan diri, berani meninggalkan setiap berhala, memegang salib dengan gigih, dengan tidak takut mati, dengan tidak mau berkompromi dan dengan tidak mengeluh, dan dengan memandang kepada Yesus yang tersalib, terus-menerus dan tidak goyah. Wewenang dan kepemimpinan rohani tidak dapat dengan mencari hal-hal besar bagi diri sendiri, melainkan seperti Paulus dengan menganggap semua keuntungan bagi kita sebagai kerugian bagi Kristus. Itulah biaya yang mahal, tetapi dengan tabah harus dibayar oleh orang yang tidak ingin menjadi pemimpin nominal, melainkan seorang pemimpin rohani yang sungguh-sungguh, seorang pemimpin yang kuasanya diakui dan dirasakan di surga, di bumi, dan di neraka.”

Inilah standar orang yang dicari Allah untuk dilimpahkan kekuatanNya (2 Taw 16:9). Tetapi tidak semua orang yang bercita-cita menjadi pemimpin rela membayar harga yang semahal itu. Persyaratan Allah ini harus ditaati secara diam-diam sebelum Ia memuliakan seseorang di depan umum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s