Kepemimpinan Rohani · Ringkasan Buku

Bab 6. Keterangan Tambahan Petrus Mengenai Kepemimpinan

image

1 Petrus 5:1-7 
Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.
Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.
Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.
Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.
Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab:”Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

Petrus menuliskan beberapa tambahan mengenai kepemimpinan yang ditulisnya pada usia kematangannya ini patut untuk kita perhatikan sebagai pemimpin. Petrus tidak menulis nasihat ini sebagai pemimpin para rasul, melainkan sebagai “teman penatua”, yaitu orang yang memikul tanggung jawab yang sama. Ia berbicara kepada mereka bukan dari atas, melainkan dari samping, yaitu tempat yang baik untuk melaksanakan kepemimpinan. Ia memperlakukan mereka sebagai orang yang sederajat dengan dirinya.

Ia juga menulis sebagai saksi penderitaan Kristus, yaitu orang yang hatinya telah dimurnikan oleh kegagalannya sendiri, dihancurkan dan ditaklukkan oleh kasih Golgota. Pekerjaan seorang gembala tidak dapat dilakukan secara efektif tanpa hati seorang gembala.

Pertama-tama Petrus membicarakan motivasi para pemimpin. Pemimpin rohani harus menerima dan melaksanakan tanggung jawabnya bukan karena terpaksa, melainkan “dengan sukarela”. Kondisi di masa petrus menulis nasihat ini begitu menggentarkan hati orang yang paling berani sekalipun, tetapi ia mendesak para pemimpin untuk tidak menjadi undur karena kenyataan itu. Juga mereka diharapkan melayani bukan karena tugas kewajiban atau karena tekanan keadaan, melainkan karena dorongan yang mulia dari kasih ilahi.

Pelayanan pengembalaan harus dilakukan “sesuai dengan kehendak Allah” (5:2), bukan berdasarkan pilihan dan keinginan mereka sendiri.

Pelayanan yang diserahkan oleh Allah tidak boleh ditolak karena merasa tidak layak atau tidak mampu. Siapa gerangan yang layak menerima kepercayaan seperti itu? Sedang terhadap rasa tidak mampu, hendaknya diingat permintaan Musa agar ia dibebaskan karena merasa tidak mampu, tidak menyenangkan Allah, bahkan membangkitkan murkaNya.

Seorang pemimpin rohani tidak boleh mencari keuntungan di dalam pelayanannya. “Gembalakanlah kawanan domba Allah…. jangan karena mau mencari keuntungan.” Seorang pemimpin seharusnya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keuangan atau keuntungan yang lain di dalam pelayanan atau keputusan-keputusannya. Jika seseorang mengetahu bahwa ia benar-benar tidak suka mengejar keuntungan, maka perkataannya akan lebih berwibawa.

Seorang Kristen tidak boleh bersikap sebagai diktator. “Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu” (5:3a). Seorang pemimpin yang ambisius dapat dengan mudah merosot menjadi seorang tiran yang picik dengan sikap mau memerintah. “Bahkan satu kuasa kecil dapat dengan mudah mengubah orang menjadi sombong.” Tidak ada satu sikap yang lebih tidak cocok bagi orang yang mengaku menjadi hamba Anak Allah yang merendahkan diriNya.

Ia harus menunjukkan satu contoh yang layak bagi kawanan dombanya. “Hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu”(5:3b) , yaitu kata yang mengingatkan kita akan nasihat Paulus kepada Timotius. “Jadilah teladan dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.” kawanan domba itu adalah milik Allah, bukan milik para pemimpin, pada akhirnya setiap pemimpin akan bertanggung jawab kepadaNya. Dialah Gembala Agung, mereka adalah gembala pembantu.

Seorang pemimpin harus “diliputi sifat rendah hati.” Perkataan “diliputi” ini menunjukkan pada jubah putih/pakaian kerja yang dipakai seorang budak. Seorang pemimpin harus mengenakan pakaian kerja seorang budak. Kesombongan selalu mengintai kekuasaan. Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang sombong untuk melayaniNya. Sebaliknya ia menentang dan menghalangi mereka. Tetapi kepada gembala pembantu yang sederhana dan rendah hati, Ia melipatgandakan kasih karuniaNya. Dalam ayat 5 Petrus mengingatkan agar pemimpin merendahkan hati dalam hubungannya dengan orang lain. Tetapi dalam ayat 6 ia menantang dia untuk bersikap rendah diri terhadap disiplin Allah.

Untuk membantu dan merangsang agar para pemimpin ke arah kepemimpinan yang tertinggi, Petrus memberikan 2 dorongan yang kuat:

1. Ada Mahkota Kemuliaan
1 Petrus 5:4 
Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. Tidak layu disini berarti “tidak menjadi kering”. Mahkota yang dianyam dari daun yang didambakan orang, akan segera menjadi layu atau kering, tetapi upah untuk pemimpin yang setia ialah karangan bunga amaranth yang tidak akan pernah layu.

2. Ada penyertaan Tuhan
Para gembala pembantu tidak akan ditinggalkan oleh Gembala Agung untuk memikul bebannya sendiri. Ia dapat mengalami adanya pemindahan kekuatiran. “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu” (5:7). Kekuatiran disini termasuk “gangguan pikiran dan hati dalam keadaan konflik emosi“. Gembala pembantu tidak perlu merasa takut bahwa pemeliharaan domba-domba Allah yang diserahkan kepadanya akan menjadi terlalu berat bagi dia. Kita dapat mengalihkan beban rohani yang menindih kita ke bahu Allah yang kuat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s