BAB 7. Sifat-sifat yang sangat penting untuk Kepemimpinan

1 Timotius3:2

Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,

Berikut ini kita akan melihat beberapa sifat mengembangkan seseorang menjadi pemimpin rohani dan yang harus terus menerus dikembangkan oleh pemiliknnya:

#1. Disiplin

Sifat ini ditaruh pada urutan yang pertama karena tanpa sifat ini maka karunia-karunia yang lain, betapapun besarnya, tidak akan berkembang dengan maksimal. Seorang pemimpin hanya akan bisa mencapai kemaksimalan dalam kepemimpinannya jika ia bisa mendisiplinkan dirinya. Seorang pemimpin dapat memimpin orang lain, karena telah mengalahkan dirinya sendiri.

Dalam bahasa Inggris kata “disciple” (Murid) dan “discipline” (disiplin) mempunyai akar kata yang sama. Boleh dibilang ciri khas dari seorang murid adalah orang yang bisa mendisiplinkan dirinya. Mereka yang memberontak kepada pemimpin dan meremehkan disiplin pribadi, jarang yang cakap menjadi pemimpin pada tingkat atas.

Dr. Donald G. Barnhouse menarik perhatian kita terhadap kenyataan yang mencolok bahwa umur rata-rata dari 40.000 tokoh yang riwayat hidupnya terdapat dalam “American Who’s Who” ke 40.000 orang yang menguasai amerika adalah sedikit di bawah 28 tahun. Ini menunjukkan suatu kenyataan yang sangat penting, yaitu bahwa disiplin pada masa muda, yang rela berkorban agar mendapat persiapan yang cukup untuk menghadapi tuntutan hidup, membuka jalan menuju taraf keberhasilan yang tinggi.

Orang muda yang berkaliber pemimpin akan bekerja sementara yang lain membuang-buang waktu, belajar pada waktu orang lain tidur dan berdoa waktu orang lain bermain, baginya tidak ada waktu untuk kebiasaan yang tidak baik dan ceroboh, dalam tutur kata, pikiran, perbuatan atau cara berpakaian. Dengan tidak segan-segan ia menerima tugas yang tidak menyenangkan yang dihindari orang lain, atau tugas tersembunyi yang dihindari orang lain karena tidak mendatangkan pujian atau penghargaan. Menerima pekerjaan dan posisi yang tersulit yang dihindari oleh orang-orang. Berani menegur dengan banyak berdoa dan kasih, meski bisa saja menyebabkan teman-temannya menjauhinya.

Tingkat yang dicapai oleh orang-orang besar tidaklah diraih dalam waktu sebentar; tetapi mereka bekerja keras di malam yang gelap, manakala sahabat-sahabatnya tertidur lelap. Unsur lain di dalam disiplin yang kurang diberi penekanan adalah disiplin untuk rela menerima dari orang lain. Sama seperti memberi dari orang lain, ada orang yang suka mengorbankan dirinya untuk orang lain. Mereka tidak suka membiarkan orang lain membalas mereka. Mereka tidak mau berutang budi kepada orang lain. Tetapi memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbuat jasa merupakan suatu cara yang sangat meolong dalam melaksanakan kepemimpinan yang berhasil. Mengabaikan hal ini berarti merampas diri sendiri dan orang lain.

#2. Penglihatan

Mereka yang paling kuat dan secara tetap mempengaruhi generasi mereka adalah biasanya seorang ”Pelihat”, yaitu orang yang melihat lebih banyak dan lebih jauh daripada orang lain. Mereka disebut orang-orang yang beriman karena iman adalah penglihatan.

George W. Truett menulis: Seorang hamba Allah harus mempunyai pengertian mengenai hal-hal rohani. Ia harus dapat melihat gunung-gunung yang penuh kuda dan rata api; ia harus dapat mengartikan apa yang ditulis oleh jari Allah pada dinding hati nurani; ia harus dapat menerjemahkan tanda-tanda zaman ke dalam istilah-istilah arti rohaninya; ia kadang-kadang harus dapat menyingkapkan tabir kebendaan dan membiarkan manusia fana sekilas memandang kemuliaan rohani yang menaungi tutup pendamaian Allah. Seorang hamba Allah harus menyatakan pola yang telah ditunjukkan kepadanya di atas gunung; ia harus mengatakakan penglihatan yang diberikan kepadanya melalui wahyu…tidak ada satupun dari hal-hal ini dapat dilakukannya tanpa pengertian rohani.”

Penglihatan meliputi tinjauan terhadap masa depan maupun pengertian. Seorang pemimpin harus dapat membayangkan hasil akhir kebijaksanaan atau cara yang ditempuhnya. Dia harus dapat membayangkan akibatnya bukan hanya di generasi ini, melainkan juga kepada generasi yang ada di depan. Mata yang memandang itu umum, tetapi mata yang melihat itu jarang. Penglihatan meliputi optimisme dan pengharapan. Seorang pesimistis tidak pernah menjadi pemimpin besar. Seorang pesimistis melihat kesulitan dalam setiap kesempatan. Seorang optimis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan. Penglihatan mengandung unsur keberanian, yaitu kesediaan untuk mengambil langkah-langkah iman baru, waktu kaki seolah-olah kehilangan tempat berpijak.

#3. Hikmat

Kolose 1:9

Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,

Hikmat” adalah kemampuan untuk memanfaatkan kemampuan sebaik-baiknya. Suatu kombinasi antara kecakapan untuk membedakan dan menilai. Dalam alkitab hikmat adalah kemampuan untuk menilai dengan benar, kebenaran rohani dan moral. Hikmat itu lebih daripada pengetahuan, yang merupakan kumpulan fakta. hikmat itu lebih dari kecerdasan manusia. Hikmat adalah ketajaman surgawi. Hikmat adalah pengetahuan dengan pengertian sedalam-dalamnya terhadapan inti persoalan, dan mengenalinya sebagaimana adanya. Hikmat jauh lebih luas dari pengetahuan. Hikmat 9/10nya adalah sikap bijaksana pada waktunya, kebanyakan dari kita seringkali bijaksana setelah peristiwa terjadi.

Sifat ini memberikan keseimbangan yang diperlukan oleh seorang pemimpin dan menjauhkan dia dari sifat eksentrik dan sifat yang berlebihan. Pengetahuan diperoleh dengan belajar, tetapi waktu Roh memasuki hidup seseorang, kita diberi hikmat untuk memakai dan menerapkan pengetahuan itu dengan tepat.

D.E. Hoste menyatakan: “Jika seseorang karena kedudukannya yang resmi, menghendaki ketaatan pihak lain tanpa mempertimbangkan akal sehat dan hati nurani orang itu, tindakan itu disebut tindakan yang sewenang-wenang. Sebaliknya jika melalui kebijaksanaan dan simpati; melalui doa, kuasa rohani dan hikmat yang benar, seseorang dapat mempengaruhi dan memberi penerangan kepada orang lain, sehingga orang itu dengan pertolongan pertimbangan akal sehat dan hati nuraninya, dipimpin untuk mengubah satu sikap dan mengambil sikap lain, maka itulah yang disebut kepemimpinan rohani yang sejati.”

#.4. Keputusan

Jika semua fakta telah ada, maka sebuah keputusan yang cepat dan jelas merupakan ciri seorang pemimpin yang benar. Jika seorang pemimpin rohani yakin akan kehendak Allah, ia harus segera bertindak tanpa menghiraukan akibat-akibatnya. Dalam mencapai tujuannya ia harus memiliki keberanian untuk pantang mundur. Ia harus rela menerima tanggung jawab penuh atas akibat kegagalan atau sukses, dan tidak melemparkan kesalahan kepada bawahannya.

Tiap orang yang namanya disebutkan dalam ibrani 11, adalah orang-orang yang mempunyai penglihatan dan keputusan. Awalnya mereka melihat penglihatan itu, setelah itu menghitung biayanya, mengambil keputusan dan bertindak atas dasar keputusan itu. Mereka adalah orang yang tidak dapat dikecewakan oleh keadaan sekeliling atau dihalangi oleh kesukaran. Pemimpin yang sejati akan melawan pencobaan untuk menunda pengambilan keputusan, dan ia tidak akam bimbang setelah keputusan diambil. Satu keputusan yang tulus meskipun salah masih lebih baik daripada tidak mengambil keputusan sama sekali. Dalam kebanyakan keputusan, segi yang sulit bukannya mengetahui apa yang patutnya kita lakukan; melainkan kerelaan untuk membayar harga yang terlibat di dalamnya.

#5. Keberanian

Keberanian adalah “sifat pikiran yang memungkinkan orang untuk menghadapi bahaya atau kesukaran dengan keteguhan, tanpa rasa takut atau kecil hati”. Tingkat keberanian yang paling tinggi dapat dilihat di dalam pribadi yang paling penakut, tetapi yang tidak mau menyerah pada ketakutan. Keberanian bukanlah absennya ketakutan, tetapi saat kita tetap berani mengambil keputusan di dalam ketakutan kita. Keberanian seorang pemimpin dinyatakan dalam hal ia rela menghadapi kenyataan yang tidak enak, bahkan keadaan yang menghancurkan, dengan ketenangan hati dan kemudian bertindak teguh atas dasar itu, msekipun itu berarti mendatangkan ketidakpopuleran bagi dirinya sendiri. Keberanian bukan hanya untuk sesaat tetapi terus ada sampai tugasnya selesai diadakan.

Mereka tetap menguatkan para pengikutnya di tengah keadaan yang menghancurkan semangat dan pengaruh-pengaruh yang melemahkan, mereka tidak bimbang dan hilang akal. Contohnya raja hizkia dalam menghadapi gerombolan sanherib yang dengan tenang mempersiapkan tentaranya dan menguatkan moral bangsanya. Dia berkata dalam 2 Tawarikh 32:7 “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya, karena yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia. 32:8 Yang menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah TUHAN, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.” Oleh kata-kata Hizkia, raja Yehuda itu, rakyat mendapat kepercayaannya kembali.

#6. Kerendahan Hati

Tidak menonjolkan diri, tidak mengiklankan diri adalah definisi yang diberikan Kristus untuk kepemimpinan. Seorang pemimpin rohani akan memilih pelayanan yang penuh pengorbanan yang tidak digembar gemborkan dan yang sesuai dengan kehendak Tuhannya, bukan tugas yang megah dan pujian yang belebihan dari orang yang tidak rohani. Prinsip “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30) harus selalu melekat dalam kepemimpinan rohani.

Kerendahan hati adalah sifat yang dapat terus bertumbuh, kita dapat belajar dari Paulus yang dari awal pelayanannya mengalami progress pertumbuhan dalam hal kerendahan hati. Dia awalnya berkata (1Kor 15:9) Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul.., lalu perkembangan selanjutnya dia berkata (Efe 3:8) Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus..,dan akhirnya dia berkata (1 Tim1:15) ..Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.

Dr. Brengleberkata ”….Kapak tidak dapat bermegah atas pohon-pohon yang ditebangnya. Kapak itu sendiri tidak dapat berbuat apa-apa tanpa adanya penebang kayu. Dialah yang membuatnya, menajamkannya dan memakainya. Pada waktu ia membuangnya, maka kapak itu hanyalah sepotong besi tua belaka….” Begitu juga Robert Morrison menulis “Menurut hemat saya kesalahan besar di dalam misi kita adalah bahwa tidak ada seorangpun yang mau menerima kedudukan yang kurang penting..”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s