Kepemimpinan Rohani · Ringkasan Buku

Bab 8. Sifat-sifat yang sangat penting untuk Kepemimpinan 2

image

1 Timotius 3:8  Demikian juga diaken-diaken haruslah…

#7. Humor
Humor merupakan salah satu elemen yang penting juga dalam kepemimpinan. Manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah sehingga dari sana kita dapat mendapatkan bahwa kalau manusia saja punya sense of humor Allah juga punya hal itu dalam diriNya.

Humor merupakan karunia yang harus dikendalikan dan dipupuk. Humor yang bersih dan sehat akan meredakan ketegangan dan mengobati keadaan yang sulit, lebih dari apapun. Charles H. Spurgeon sekali peristiwa pernah dicela karena ia memasukkan lelucon dalam kotbahnya. Dengan mata bersinar-sinar ia menjawab, ” jika sekiranya anda mengetahui bagaimana saya menahan diri untuk tidak mengucapkannya, maka anda akan memuji saya.” Dalam membela pemakaian humor ini, ia menulis, “ada hal-hal dalam kotbah-kotbah selama ini yang dapat menyebabkan orang tersenyum, tetapi apa salahnya? Sebuah senyuman bukanlah dosa. Lagipula ia berpendapat lebih baik membiarkan orang tertawa untuk sementara daripada tertidur dengan pulas selama setengah jam.”

Humor merupakan modal besar dalam kehidupan utusan injil. Dan jika tidak memiliki hal ini maka kita akan kekurangan sesuatu yang penting. F.J. Hallett menyatakan bahwa orang yang paling berhasil adalah orang yang mempunyai rasa humor yang baik, digabungkan dengan kasih karunia Allah. Humor memberikan ketajaman, keaslian, dan kefasihan kepada kotbah.

Salah satu cara kita untuk mengetahui apakah humor kita cocok atau tidak ialah apakah kita mengendalikan humor itu atau humor itu akan mengendalikan kita. Milikilah rasa humor yang baik yang tahu menwmpatkan diri dan waktu kapan harus melucu dan terkendali.

#8. Kemarahan
Well mungkin ini kedengaran agak aneh kalau ini dijadikan salah satu syarat kepemimpinan karena dalam konteks lain seringkali kemarahan bersifat menjatuhkan.

Kemarahan yang benar tidak kurang luhurnya daripada kasih, karena kedua sifat ini ada pada Allah. Yang satu memerlukan yang lain. Kemarahan Yesus selalu dilandasi oleh rasa kasihNya kepada manusia. Kemarahan yang benar adalah kemarahan atas ketidakadilan dan penyalahgunaan yang tidak memuliakan Allah.

Martin Luther menyatakan bahwa ia “tidak pernah melalukan sesuatu dengan baik sampai kemarahannya memuncak, dan kemudian barulah ia dapat melakukan sesuatu dengan baik”. Tetapi kemarahan ini sangat mudah disalahgunakan dan hanya beberapa orang saja yang dapat marah tanpa berdosa.

Paulus mengingatkan kita agar kalau kita marah jangan sampai berbuat dosa. Jadi marah itu bukan dosa tetapi marah yang tidak dikendalikan berpotensi menghasilkan dosa. Kemarahan yang berpusat pada diri sendiri selalu berdosa. Agar tidak berdosa, kemarahan itu harua merupakan kegairahan akan hukum-hukum kebenaran dan kesucian, dengan kemuliaan Allah sebagai tujuannya.

#9. Kesabaran
Untuk menjadi pemimpin yang besar diperlukan sifat kesabaran yang besar. William Barclay mengartikan 2 Petrus 1:6
Tentang kesabaran, “Kata ini tidak pernah berarti orang yang duduk dengan berlipat tangan dan hanya menerima keadaan saja, melainkan berarti tahan menderita demi kemenangan, terus menerus secara jantan dalam ujian. Menerima dengan gagah dan berani segala sesuatu yang dapat menimpa kita, mengubah keadaan yang paling buruk sekalipun menjadi satu langkah ke arah yang lebih tinggi. Kesanggupan untuk bertahan dengan berani dan berkemenangan yaitu kesanggupan yang memungkinkan seseorang melampaui keadaan krisia dengan tabah, dan dengan gembora selalu menyambut yang tidak terlihat.”

Hudson Taylor mengaku, “Cobaan saya yang terberat ialah kecenderungan untuk menjadi marah karena kekecewaan atas kelambanan dan tidak efisiennya orang-orang yang saya andalkan. Tidak ada gunanya menjadi marah. Tetapi itu benar-benar suatu ujian”.

Salah satu perwujudan dari sifat ini adalah seorang pemimpin tidak maju terlalu jauh dari pengikutnya, supaya jangan sampai mengecilkan hati mereka. Sambil maju terus, ia tinggal cukup dekat dengan mereka, sehingga mereka tetap dapat melihat dia dan mendengar panggilannya untuk maju. Ia tidak terlalu kuat, sehingga tidak dapat menunjukkan simpati yang menguatkan terhadap kelemahan rekan-rekannya.

“kita yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat” (Rom 15:1) Orang yang tidak sabar terhadap kelemahan akan mempunyai kelemahan dalam kepemimpinannya. Bukti kekuatan kita bukan dalam hal kita meluncur pesat, melainkan di dalam kesediaan untuk menyesuaikan langkah kita dengan langkah yang lebih lambat dari saudara kita yang lebih lemah, dan tidak meninggalkan kepemimpinan kita. Jika kita lari terlalu cepat kita akan kehilangan kekuatan kita untuk mempengaruhi.

#10. Persahabatan
“Kemuliaan terbesar daripada kepemimpinannya ialah bahwa ia adalah teman sesamanya manusia. Ia mengasihi orang yang berhubungan dengan dia dan ia mengasihi umat manusia.”

Seorang pimpin tidak cuma dituntut untuk bisa memimpin tetapi juga untuk bisa bersahabat dengan orang yang dipimpinnya. Daud, paulus memiliki karunia untuk ini. Daud memiliki kemampuan untuk menguasai orang dan bahkan keinginan yang terbisik pun dianggap aebagai sebuah perintah sari orang yang dipimpinnya. Mereka rela mati untuknya karena mereka juga tahu daud berani mati untuk mereka.

Paulus memiliki keistimewaan untuk bersahabat. Tidak ada seorangpun si dalam perjanjian baru yang mempunyai musuh yang lebih mwnakutkan, tetapi hanya sedikit orang di dunia ini yang mempunyai teman-teman yang lebih baik.

Salah satu unsur dalam kepemimpinan adalah kemampuan untuk dapat menimbulkan yang terbaik dari dalam diri orang lain. Untuk mencapai hal ini maka keramahtamahan pribadi jauh lebih berhasil daripada argumentasi panjang lebar yang sukses. Menguasai melalui hati. Kalau logika dan argumentasi dan cara macam-macam cara membujuk telah gagal, kembalilah pada persahabatan sejati melalui hati.

#11. Kebijaksanaan dan Diplomasi
Kedua hal ini sangat berhubungan erat. Kebijaksanaan adalah daya memahami berdasarkan intuisi, terutama daya memahami secara cepat dan halus mengenai apa yang cocok dan patut dilakukan atau dikatakan, terutama satu cita rasa yang halus yang tidak melukai perasaan orang lain.

Diplomasi adalah ketangkasan dan ketrampilan menangani urusan apa pun. Ketrampilan dalam mempersatukan pandangan-pandangan yang saling bertentangan tanpa melukai perasaan dan tanpa prinsip kompromi. Kemampuan untuk menempatkan diri sendiri pada kedudukan orang-orang yang terlibat dan dengan teliti memperkirakan bagaimana mereka akan merasa dan bereaksi.

#12 Daya yang mengilhami
Daya yang mengilhami orang lain untuk melayani dan berkorban adalah ciri seorang pemimpin yang berasal dari Allah. Semangat dan dorongannya dapat menular. Sepertinya tanpa usaha yang cukup berarti apa yang dia lakukan dapat tertular pada orang-orang yang ia pimpin. Secara naluri orang yang mengikutinya dan percaya kepadanya orang yang mengenalnya mau tidak mau memperoleh cita-cita baru mengenai kehidupan dan pelayanan Kristen.

#13 Kemampuan melaksanakan
Orang yang tidak mempunyai sifat ini sampai taraf tertentu meskipun dapat melihat hal-hal rohani ia dapat melihat hal-hal rohani dengan jelas, tidak akan dapat mewujudkan penglihatannya menjadi satu tindakan. Kemampuan untuk menilai orang, cakap untuk menggunakan mereka, kekuatan mendayagunakan mereka semaksimal mungkin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s