Devotion

Bab 10. Pemimpin dan Doanya

Kneeling_Man_in_Blue_Silhouette

1 Timotius 2:1 Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,

Seorang pemimpin tidak boleh mendahului para pengikutnya di dalam hal apapun kecuali dalam hal berdoa. Pemimpin harus mendahului pengikutnya dalam hal berdoa. C.J Vaughan pernah berkata” jika saya ingin merendahkan hati seseorang, saya dapat bertanya kepadanya tentang kehidupan doanya. Saya tidak mengenal pokok lain yang dapat memancing begitu banyak pengakuan diri yang penuh dengan dukacita.” Bagaimana dengan kehidupan doa kita?

Doa merupakan pernyataan naluri keagamaan paling tua, paling universal dan paling kuat. Doa dapat menjangkau perkara-perkara yang paling dalam, karena doa sekaligus merupakan cara yang paling sederhana untuk berkata-kata. Keluhan terdalam yang dapat mencapai Tuhan. Daoa mrupakan nafas dan udara asli abgi kehidupan kekristenan kita. Nah dengan menyadari begitu pentingnya doa tadi, sesuatu yang menjadi paradoks adalah keengganan kita dalam hal berdoa, keenganan kita dalam menghampiri Allah. Kesukaan kita akan doa hanya sebtas bibir kita saja.

Seringkali kita merasa enggan sekali datang kepada Allah, dan jika sudah bersama Dia, kita merasa enggan sekali untuk terus berdoa. Pada saat itulah dibutuhkan disiplin pribadi. Jika kita merasa tidak suka berdoa jangan menyerah, berusahalah dan berikhtiarlah untuk tetap berdoa, bahkan jika anda merasa tidak dapat berdoa sekalipun. Sama seperti hal lain untuk bisa menguasai seni berdoa memerlukan waktu, dan jumlah waktu yang kita curahkan untuk berdoa menjadi ukuran konseosi kita tentang pentingnya doa. Kita selalu dapat menyediakan waktu untuk hal yang ktia anggap penting. Jangan berikan waktu sisa, sengajalah untuk menyediakan waktu untuk itu.

Bagi kebanyakan orang aktivitas dan kesibukan yang menumpuk menjadi alasan untuk mengurangi waktu doa. Tetapi kita tertampar oleh apa yang dilakukan Martin Luther yang sibuk, pekerjaan tambahahan justru mengharuskan dia menyediakan lebih banyak waktu untuk berdoa. Dia berkata : “bekerja dan sekali lagi bekerja, dari pagi buta hingga larut malam. Sesungguhnya begitu banyak yang harus saya kerjakan, sehingga saya akan melewatkan tiga jam yang pertama di dalam doa.”. kalau doa penting bagi kita maka kita akan menyediakan waktu untuk itu.

Tidak ada cara untuk belajar berdoa selain berdoa. Contoh terbaik dalam hal berdoa dapat kita temukan pada Yesus sendiri.
– Kalau Yesus saja berdoa, apalagi kita
– Doa merupakan unsur utama dalam kehidupanNya dan berulang kali muncul dalam pengajaranNya
– Doa menolong Dia untuk tetap memiliki pandangan yang tajam dan jelas mengenai kewajiban moralNya
– Doalah yang menggerakkan Dia untuk melakukan dan bertahan terhadap Kehendak BapaNya
– Doalah yang merintis jalan sebelum Ia dipermuliakan
– Doa bukan merupakan suatu tambahan yang membuat Dia enggan, melainkan suatu kebutuhan yang menggembirakan
– Ia berulang kali mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi untuk berdoa (Luk15:16). Ia punya kebiasaan pergi menyendiri untuk berdoa.
– Yesus biasanya berdoa semalam-malaman (Luk6:12)
– Seringkali Ia bangun lama sebelum Fajar agar dapat bersekutu dengan Bapanya tanpa gangguan.(Mark 1:35)
– Keadaan-keadaan krisis dalam hidup dan pelayanNya selalu didahului doa secara khusus(Luk5:16)

Doa yang sungguh-sungguh bukanlah sebuah khyalan belaka atau mimpi. Semua doa yang sangat penting akan menghabiskan tenaga manusia. Doa syafaat yang sunguh-sungguh adalah sebuah pengorbanan, bahkan pengorbanan yang sampai mencucurkan darah. Yesus melakukan banyak mujizat tanpa menunjukkan kelelahan, namun dalam hal berdoa tertulis bahwa Ia telah mempersembahakan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan. (Ibr 6:7)

Kolose 4:12 Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah.

Kolose 2:1 Karena aku mau, supaya kamu tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu, dan untuk mereka yang di Laodikia dan untuk semuanya, yang belum mengenal aku pribadi,

Kata “bergumul” dan “perjuangan” dalam bahasa aslinya mengandung arti “menderita”. Kata itu digunakan untuk seseorang yang bekerja keras sampai lelah sekali (Kol 1:29); atau orang yang bertanding di gelanggang pertandingan merebut piala(1 Kor 9:25). Kata itu menggambarkan seorang prajurit yang mempertaruhkan nyawanya (1 Tim 6:12); atau seseorang yang bergumul untuk melepaskan sahabatnya dari bahaya (Yoh 18:36). Doa yang sungguh-sungguh merupakan suatu kegiatan rohani yang memerlukan disiplin dan konsentrasi pikiran setinggi-tingginya.

Selain usaha yang perlu kita lakukan, Roh Kudus sangat berperan penting dalam berdoa. Roma8:26-27 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Roh Kudus menghubungkan diriNya sendiri dengan kita di dalam doa kita dan mencurahkan doa-doaNya dalam doa kita.

Jika kita sampai mengabaikan peran Roh Kudus, maka itu berarti kita tidak memanfaatkan kunci utamanya. Roh Kudus adalah Guru utama yang mengajarkan kita untuk berdoa. Jangan sampai dengan ketidak sengajaan kita, kita telah melepaskan ketergantungan kita akan Roh Kudus. BantuanNya dalam doa disebutkan lebih sering daripada tugas-tugasNya yang lain. Semua doa yang benar berasal dari kegiatanNya di dalam jiwa. Baik Paulus maupun Yudas mengajarkan bahwa doa yang efektif adalah “berdoa dalam Roh”

Apa yang dimaksud berdoa dalam Roh:
1. Berdoa di dalam alam Roh.
Jadi tidak berdoa secara mental, dan bukannya secara rohani. Doa jangan Cuma bergerak di pikiran saja, dan merupakan hasil pemikiran kita sendiri. Mempergunakan tubuh, bekerja sama dengan pikiran, tetapi bergerak di alam Roh. Doa jenis ini bekerja di alam Surgawi.
2. Berdoa di dalam kuasa dan kekuatan Roh
Berdoa merupakan tugas yang memelukan kekuatan di luar manusia, maka doa yang memerlukan kekuatan yang lebih dari kekuatan manusia saja ini diberikan oleh Roh Kudus. Beberapa pemimpin rohani biasanya memiliki halangan-halangan ini dalam berdoa:
o Ketika ia mempunyai dosa yang ia sadari di dalam hatinya
o Dihambat oleh kebodohan pikirannya
o Terikat pada dunia ini karena kelemahan tubuhnya

Oleh sebab itu ada juga dikatakan doa peperangan, dalam hal ini ada pribadi yang terlibat: Allah, Kita dan iblis. Kita dapat melihat dalam beberapa kali kesempatan ketika Yesus melayani orang yang terikat, Ia menghadapi kuasa-kuasa kejahatan yang ada dibaliknya. Yesus melihat ada tangan iblis yang jahat dibalik teguran petrus yang bermaksud baik. Yesus menangani penyebab adan bukan akibat. Yesus menggambarkan iblis sebagai orang yang kuat dan bersenjata, yang menjagai istana dan harta bendanya. Yesus berkata ia harus dilucuti terlebih dahulu, diikat tidak berdaya baru tawanan bisa dilepaskan. Ikat dulu oran gkuatnya baru lepaskan tawanan (Mat12:28-29). Jangan kita membalikkan urutan tuhan dan berharap melepaskan tawanan tanpa melucuti musuh.

Karena pemimpin identik dengan pengaruh, maka pemimpin rohani harus menemukan cara yang efektif untuk melakukan hal ini. Dan caranya adalah berdoa. Kita dapat menggerakkan orang, dengan perantaraan Allah, hanya dengan doa. Paulus dalam pelayanannya telah membuktikan kebenaran ini berkali-kali. Nah bagi kita menyetujui semboyannya secara akal tidak sama dengan menjalankannya secara terus menerus di dalam kenyataan.

Manusia merupakan objek yang sulit digerakkan, dan jauh lebih mudah untuk berdoa bagi kebutuhan yang bersifat sementara daripada berdoa untuk keadaam yang melibatkan seluk-beluk dan kekerasan hati manusia. Kebesaran dan kemuliaan manusia adalah bahwa ia dapat berkata ”tidak” kepada Allah yang Maha Kuasa. Jika kita berdoa untuk mempengaruhi teman, apakah itu termasuk melanggar kebebasan hatinya?apakah Tuhan akan melanggar kebebasan orang untuk menjawab doa seorang yang lain? Namun jika doa tidak bisa mempengaruhi Dia untuk apa kita berdoa?

Hal pertama yang perlu kita ingat dalam hal ini adalah Tuhan selalu konsekwen terhadap diriNya sendiri, jika ia berjanji akan menjawab doa yang disertai iman maka ia akan berbuat demikian. Ia akan memenuhi semua kewajiban diriNya tetapi bukan dengan cara yang berlawanan dengan kodrat IlahiNya. Tidak ada satu perkataan atau tindakan yang berlawanan dengan perkataan dan tindakan yang lain.

Sasaran doa ialah telinga Allah. Doa mempengaruhi orang dengan cara mempengaruhi Allah agar mempengaruhi mereka. Bukan doa yang menggerakkan manusia melainkan Allah, kepada Siapa kita berdoa. Untuk menggerakkan manusia pemimpin harus dapat menggerakkan Allah, karena Ia telah menjelaskan bahwa Ia menggerakkan mereka melalui doa-doa permohonannya. Doa yang berhasil adalah hasil dari hubungan yang benar dengan Allah. Doa yang hasilnya untuk kemuliaan Allah.

Kalau ada doa-doa yang tidak berhasil maka biasanya:
– Doa yang berpusat diri sendiri, mementingkan diri sendiri
– Doa yang bermotivasi diringan yang tidak suci
– Adanya dosa yang melekat
– Sikap tidak percaya.

Para pemimpin dalam Alkitab, mereka menjadi pemimpin bukan karena kehebatan pikiran mereka, bukan karena mereka mempunyai sumber yang tidak ada habis-habisnya, bukan karena kebudayaan atau bakat-bakat pembawaan mereka sejak lahir yang hebat, melainkan karena kuasa doa maka mereka dapat memiliki kuasa Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s