Bab 11. Pemimpin dan waktunya

image

Efesus 5:16   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.

Waktu adalah suatu kelangsungan dimana terjadi berbagai hal. Mutu kepemimpinan bisa diukur dari bagaimana dan dengan siapa ia melewatkan waktu senggangnya. Cara bagaimana ia memakai kelebihan waktunya setelah menyediakan waktu untuk hal lainnya akan menjadikan kita orang yang sedang-sedang saja atau orang yang benar-benar berarti. Kebiasaan yang dibentuk pada waktu muda dapat membangun atau merusak kehidupan. Waktu senggang merupakan kesempatan yang baik sekali atau sesuatu yang membahayakan. Setiap detik dalam tiap-tiap hari merupakan karunia Allah, oleh sebab itu harus dipergunakan dengan sangat hati-hati.

Setiap menit dan jam dapat diubah menjadi kehidupan yang kaya dan berlimpah-limpah. Ahli filsafat William James menegaskan bahwa pemanfaatan hidup yang sebaik-baiknya ialah memakainya untuk sesuatu yang akan tetap ada setelah hidup kita berakhir, karena nilai hidup tidak dihitung menurut lamanya, melainkan menurut apa yang telah disumbangkan olehnya. Bukan berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana penuh dan baiknya kita hidup.

Meskipun waktu itu sangat berharga dan mempunyai potensi yang begitu besar, namun tidak ada hal lain yang lebih diboroskan tanpa dipikir daripada waktu. Jika kita berhati-hati dalam memakai hari-hari kita, maka dengan sendirinya tahun-tahun kita akan terpakai dengan baik. Kalimat “saya tidak mempunyai waktu” seharusnya jarang diucapkan oleh seorang pemimpin karena itu adalah ucapan pelarian dari orang yang kecil yang tidak efisien dalam mengatur waktunya. Kita masing-masing telah dipercayai dengan waktu yang sama,  yang cukup untuk melakukan kehendak Allah dan memenuhi rencanaNya yang mulia untuk hidup kita.

Dr. J.H Jowett berkata “… Orang yang benar-benar sibuk tidak akan pernah tidak mempunyai waktu. Mereka mengatur waktu mereka dengan demikian ketat dan sistematis setiap harinya. Sehingga jika anda meminta sesuatu dari mereka, mereka selalu dapat menyisihkan waktu untuk suatu pelayanan yang tidak mementingkan diri sendiri. Sebagai seorang pendeta saya mengaku bahwa justru dari orang yang paling sibuklah saya dapat mengharapkan pelayanan tambahan.”. Masalahnya bukanlah bahwa kita memerlukan lebih banyak waktu lagi, melainkan bagaimana memanfaatkan waktu kita secara lebih baik.

Pada waktu Paulus mendorong orang percya di Efesus agar “mempergunakan waktu yang ada” ia seolah-olah mengatakan bahwa waktu menjadi milik kita dengan cara membelinya. Untuk penggunaan waktu yang sebaik-baiknya kita harua membayar harganya. Kita menukar waktu di dalam pasaran hidup untuk pekerjaan dan kegiatan tertentu, yang mungkin berguna atau tidak berguna, produktif maupun tidak produktif. Weymouth menggunakan ungkapan “memborong kesempatan”, oleh karena waktu adalah kesempatan, dan disinilah pentingnya satu kehidupan yang direncanakan dengan hati-hati.” Jika kita berkembang dalam mempergunakan waktu, maka sebenarnya kita sedang belajar hidup. Jika kita gagal disini, maka dimana-mana kita akan gagal.

Waktu dapat hilang, tetapi tidak dapat diperoleh kembali. Waktu tidak dapat disimpan, tetapi harus digunakan. Waktu juga tidak dapat ditunda. Jika tidak digunakan secara produktif, maka waktu akan hilang dan tidak dapat diperoleh kembali. Menghadapi kenyataan ini maka seorang pemimpin harua berhati-hatii dan cermat dalam pemilihan prioritas. Nilai-nilai perbandingan antara kesempatan dan tanggung jawab harus dipertimbangkan dengan tekun. Ia tidak dapat memboroskan waktunya begitu saja untuk hal-hal yang termasuk kepentingan nomor dua, sedangkan hal-hal utama mendesak meminta perhatian. Oleh sebab itu waktu harus direncanakan dengan cermat.

Jika kita mau menjadi unggul mau gak mau kita harus berani untuk memilih dan berani untuk menolak, lalu memusatkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting. Mencatat pemakaian waktu dalam 1 minggu dapat menjadi latihan yang berguna untuk membuka mata kita. Salah satu hal yang pasti adalah meyakinkan orang yang bersangkutan bahwa ia mempunyai lebih banyak waktu daripada yang dipakainya secara produktif.

Yesus memberikan kita contoh terbaik bagaimana Dia menggunakan waktu. Ia memakai hidupnya berencna, Ia tidak pernh tergesa-gesa, meskipun selalu dikerumuni orang banyak dan kadang kala terganggu oleh sekelompok orang yang memerlukan Dia. Kepada mereka yang memerlukan pertolonganNya ia memberikan kesan bahwa tidak ada hal lain yang lebih diperhatikan olehNya daripada kepentingan mereka. Rahasia ketenanganNya terletak di dalam keyakinanNya bahwa Ia bekerja sesuai dengan rencana BapaNya bagi Dia.

Perhatian Kristus yang terutama adalah bagaimana menggenapkan pekerjaan yang diserahkan kepadaNya pada waktu yang telah ditetapkan. Ia bekerja dengn penuh kesadarn bahwa setiap kejafian dalam hidupNya sudah diatur oleh Allah (lihat Yoh 7:6; 12:23; 27; 13:1; 17:1) bahkan ibu yang dikasihinya tidak diizinkan mencampuri rencana ilahiNya. Bahkan kasihNya yang besar kepada Maria dan Marta dan kemungkinan timbul salah paham tidak dapat menyebabkan Dia mengajukan waktuNya dengan 2 hari (Yoh 11:6,9). Ia menyelesaikan pekerjaan pekerjaan itu tanpa merusak bagian mana pun yang disebabkan karena tergesa-gesa atau diselesaikan dengan tidak sempurna karena kekurangan waktu. Ia menganggap 24 jam sehari cukup untuk menyempurnakan seluruh kehendak Allah. Ia memakai waktunya untuk melakukan hal-hal yang berarti. Tidak ada waktu yang diboroskan untuk hal-hal yang tidak penting.

Seringkali tekanan-tekanan yang dihadapi seorang pemimpin rohani disebabkan karena ia menerima tanggung jawab yang tidak diberikan oleh Allah kepadanya, dan oleh karena itu ia tidak dapat mengharapkan Allah memberikan kekuatan tambahan yang diperlukan. Selain tekanan karena hal yan tidak harusnya kita emban, ada juga hal-hal yang bersifat gangguan yang tidak diharapkan dan tidak dikehendaki. Dalam hal ini kira harus meyakini bahwa setiap orang yang menjumpai kita dengan berbagai masalah adalah Tuhan yang mengutusnya kepada kita. Terimalah gangguan-gangguan yang dari Allah. Maka gangguan itu akan menjadi bagian dalam rencana anda, karena Allah sekedar menyusun kembali pola harian anda untuk disesuaikan dengan Dia. Bagi orang Kristen yang berjaga-jaga, gangguan-gangguan merupakan kesempatan yang diberikan Allah kepadanya.

Ini sesuai dngan apa yang Paulus tegaskan bahwa Allah mempunyai rencana untuk setiap kehidupan, dan bahwa kita masing-masing telah diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya, sehingga kita hidup menurut rencana itu (Efe 2:10). Melalui doa dan persekutuan setiap hari, seorang pemimpin harua mengetahui perincian rencana tersebut. Tiap-tiap setengah jam harus mempunyai manfaatnya sendiri-sendiri.

Tidak banyak hal yang cenderung sangat mengikat seorang pemimpin lebih dari soal penggunaan waktunya. Dalam hal ini ia harus mencari keseimbangan. Jika tidak maka ia akan bekerja dibawah tekanan yang tidak perlu. Bahkan mungkin meskipun telah banyak waktu dan tenaga yang telah dihabiskan tetap saja banyak hal yang belum bisa diselesaikan. Ingat bahwa setiap seruan minta tolong tidak selamanya berasal dari Allah, dan ia tidak mungkin memenuhi semua permintaan. Tanggung jawab kota hanyalah sampai pada hal-hal yang berada dalam jangkauan kita yang selebihnya dapat kita serahkan kepasa Bapa di surga yang penuh kasih dan kemampuan.

Penundaan, yaitu pencuri waktu adalah salah satu senjata iblis yang paling ampuh menipu manusia dari warisannya yang kekal. Penundaan merupakan suatu kebiasaan yang dapat berakibat fatal pada kepemimpinan rohani yang efektif. Kehalusan dan kekuatannya terletak di dalam kenyataan bahwa kebiasaan itu sesuai sekali dengan kecenderungan alamiah kita dan keengganan kita untuk mengambil keputusan yang penting. Mengambil keputusan dan menjalankannya selalu menuntut usaha moral yang tidak ringan. Semakian waktu berlalu maka akan semakin sukar keputusan umtuk diambil. Semak duri tidak akan pernah lebih mudah ditebas daripada sekarang.

Lakukan sekarang merupakan prinsip yang telah membawa banyak orang berhasil secara duniawi, dan hal ini tidak kalah pentingnya di bidang rohani. Cara yang paling menolong untuk mengalahkan lebiasaan menunda-nunda waktu ialah menetapkan batas waktu bagi diri sendiri untuk membaca sesuatu, menulis sutu surat atau karangan yang sukar, atau melakukan satu tugas dan kemudian berketetapan hati untuk tidak melampaui batas waktu tertentu. Seorang pembaca yang tekun, yang hidupnya juga lebih sibuk daripada kebanyakan orang, selalu ditanya oleh teman-temannya, “Bagaimana anda bisa memperoleh waktu untuk membaca?” Ia selalu menjawab, “Saya tisak memperoleh waktu untuk itu, melainkan mengambil waktu untuk itu.” Prinsipnya jangan tunggu sampai anda punya waktu, sediakanlah waktu untuk hal yang mau kita lakukan.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s