Kepemimpinan Rohani · Ringkasan Buku

BAB 13. Biaya Kepemimpinan

pay_the_price

Markus 10:38
Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?”

Seseorang yang mau menjadi seorang pemimpin rohani haruslah bersedia untuk membayar harganya. Kalau ia tidak bersedia membayar harga yang lebih mahal daripada yang rela dibayarkan oleh orang-orang sezamannya, dan rekan sekerjanya maka janganlah ia menjadi pemimpin rohani. Kepemimpinan yang sungguh-sungguh selalu menuntut bayaran yang tinggi dari seseorang, dan semakin efektif kepemimpinan itu, semakin tinggi pula biaya yang harus dibayarkan.

Quinton Hog, yang mendirikan The London Polytechnuc Institute, mengorbankan banyak usaha untuk membangunnya…ia berkata “ketika seseorang berhenti membayar harga maka kepemimpinan akan terhenti. Kita tidak dapat menyelamatkan orang lain dan menyelamatkan diri sendiri pada waktu yang bersamaan.” Samuel Brengle berkata “…mereka yang mencita-citakan kepemimpinan harus membayar biayanya dengan mencari dari Allah.”

Kesimpulannya adalah seorang pemimpin rohani haruslah bersedia membayar harganya. Berikut adalah beberapa hal yang wajib dibayar oleh seorang yang mau menjadi pemimpin rohani:

#1. Pengorbanan Diri

Pengorbanan diri merupakan bagian dari biaya yang harus dibayar setiap hari. Di jalan seorang pemimpin rohani terdapat sebuah jalan salib dan ia harus rela dipakukan di atas salib. Tuntutan ini mutlak. 1 Yoh 3:16 berkata “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Sampai dimana kita mau membiarkan salib Kristus bekerja di dalam diri kita, akan menjadi ukuran sampai dimana hidup kebangkitan Kristus dinyatakan melalui diri kita. “Maut giat dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.” Menghindari salib berarti melepaskan kepemimpinan.

Kerelaan untuk meninggalkan kesenangan-kesenangan pribadi, untuk mengorbankan keinginan-keinginan yang wajar dan alamiah untuk KerajaaNya akan menjadi ciri orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk memegang kedudukan yang berpengaruh dalam kerajaanNya. Dr. Samuel M. Zewer mengatakan bahwa satu-satunya hal yang ditunjukkan Yesus setelah kebangkitannya adalah bekas luka paku di tangan dan tombak di rusukNya. Bekas luka itu adalah tanda asli dari seorang murid yang setia dan seorang pemimpin rohani yang benar.

#2. Kesepian

Sudah menjadi kodratnya setiap pemimpin merasakan kesepian, ia harus selalu berada di depan para pengikutnya. Dalam kepemimpinan kita, seringkali kita akan dibawa pada satu kondisi dimana kita hanya akan sendirian bersama dengan Allah. Manusia selalu mencari teman dan keinginan untuk membagikan beban tanggung jawab dan kekuatiran kita kepada orang lain, memang merupakan suatu hal yang wajar. Beberapa tokoh di alkitab bisa memberikan contoh misalnya saja, Musa membayar harga ini untuk kepemimpinannya seorang diri diatas gunung dan seorang diri di lembah; kesepian yang mencekam karena kesalahpahaman dan kecaman serta kesangsian terhadap maksud-maksud baiknya. Para nabi adalah orang yang paling kesepian. Henokh berjalan seorang diri di dalam masyarakat yang bobrok. Yunus yang berjalan sendirian ketika menyatakan pesan kepada rakyat niniwe. Pengkotbah masa kini yang paling kesepian adalah orang yang diberi kepercayaan untuk menyampaikan pesan nubuat yang bertentangan dengan sifat zaman ini. Paulus yang suka bergaul pun adalah orang yang kesepian, yang merasakan sepenuhnya kepahitan karena disalahpahami oleh orang-orang sezamannya, disalahartikan oleh musuh-musuhnya, dan ditinggalkan oleh para petobat dan para teman-temannya.

“Kebanyakan orang-orang besar di dunia mengalami kesepian.” Demikian kata Tozer. Kesepian adalah biaya yang harus dibayar oleh orang saleh dalam hidupnya. Seorang pemimpin haruslah orang yang , walaupun menerima persahabatan dan dukungan orang lain, mempunyai sumber di dalam dirinya yang cukup untuk berdiri sendiri bahkan dalam menghadapi perlawanan yang sengit, ketika ia melaksanakan tanggung jawabnya. Ia harus bersedia untuk tinggal “hanya seorang diri dengan Allah”.

#3. Kelelahan

Tuntutan yang semakin meningkat terhadap seorang pemimpin menguras otak dan melelahkan tubuh yang bagaimanapun kuatnya. Tetapi ia tahu kemana ia harus pergi untuk mendapatkan kekuatan baru. Tidak ada suatu kebaikan yang tahan lama yang dapat dikerjakan tanpa keluarnya kekuatan dan tenaga otak. Orang yang telah menikmati kesejahteraan hidup bukanlah kaliber seorang pemimin. Jika ia tidak mau bangun lebih pagi dan pergi tidur lebih malam daripada orang lain, bekerja lebih keras, belajar lebih rajin daripada rekan-rekannya, maka ia tidak akan memberikan kesan yang mendalam kepada orang segenerasinya.

Jika ia tidak rela membayar biaya kelelahan untuk kepemimpinannya, maka kepemimpinannya akan sedang-sedang saja, kecuali ia adalah seorang yang mempunyai tubuh dan daya tahan yang luar biasa. Tetapi jika ia bijaksana maka ia akan memakai setiap kesempatan untuk memulihkan kesegaran tubuhnya dan bersantai. Kalau tidak maka tenaga dan pelayanannya akan menjadi terbatas.

#4. Kritik

Tidak ada pemimpin yang luput dari kritik, dan kerendahan hatinya terlihat sangat jelas di dalam hal bagaimana ia menerima dan memberikan reaksi terhadap kritik tersebut. Tidak peduli apa yang terjadi pada kitam tetapi reaksi kita terhadap apa yang terjadi pada kita itulah yang terpenting. Bukan soal benar atau salah tetapi respons itulah yang terpenting. Kita harusnya lebih lagi mengharapkan banyak kritik lagi, karena dengan bertambahnya tanggung jawab, maka kritik itu tidak dapat dielakkan lagi. Kritik menyebabkan orang hidup dengan rendah hati bersama Allah, dan mengambil tindakan yang dikehendaki olehNya. Sikap kita atas setiap kritik yang kita terima dapat mengubah kutuk jadi berkat dari hutang menjadi suatu modal.

#5. Penolakan

Seorang pemimpin yang berusah mempertahankan standar rohani yang tinggi, kadang-kadang mungkin harus mengalami penolakan sama seperti yang dialami oleh Yesus. Tidak ada seorang pun dapat sepenuhnya diterima, sampai ia sama sekali ditolak. Lebih baik ditolak manusia daripada ditolak Allah. Seringkali khalayak ramai tidak mengakui kepemimpinan seseorang, sampai ia telah pergi dan kemudian mereka mendirikan tugu peringatan baginya dari batu-batu yang dilemparkan kepadanya semasa ia hidup.

#6. Tekanan dan Kebingungan

Orang-orang yang tidak menjadi pemimpin mungkin mengira bahwa semakin banyak pengalaman dan semakin lama berjalan dengan Allah akan semakin mudah mengerti kehendakNya dalam keadaan yang membingungkan, namun seringkali yang didapati adalah hal yang sebaliknya. Allah memperlakukan pemimpin itu sebagai orang yang dewasa, dengan menyerahkan semakin banyak hal kepada ketajaman rohaniannya sendiri, dan makin sedikit memberikan bukti-bukti bimbinganNya yang dapat dirasakan dan nyata daripada tahun-tahun sebelumnya. Kebingungan ini menambah tekanan-tekanan yang dengan sendirinya menyertai setiap kedudukan yang disertai tanggung jawab. Tetapi ketika tiba waktunya untuk bertindak, Allah selalu menjawab iman hambaNya. Tuhan tidak akan pernah terlambat.

#7. Biaya untuk Orang Lain

Seringkali ada biaya yang harus dibayar oleh orang lain daripada oleh orang yang diserahi jabatan sebagai pemimpin. Memang benar bahwa merekalah yang kadang-kadang harus menanggung biaya yang lebih berat. Tanggung jawab bukanlah sesuatu yang harus dicari, karena biasanya harus dipikul dengan biaya yang berat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s