Kepemimpinan Rohani · Ringkasan Buku

BAB 18. Reproduksi Para Pemimpin

image

2 Timotius 2:2 Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.

   

Menghasilkan/mereproduksi pemimpin adalah tugas seorang pemimpin rohani. Kita harus menyediakan waktu untuk melatih orang-orang muda untuk menggantikannya bahkan kalau bisa melebihi dirinya sendiri. Sebagai seorang pemimpin harus memberikan ruang gerak yang cukup untuk orang yang dipimpinnya untuk menjalankan dan mengembangkan kekuatan mereka sama seperti Barnabas kepada Paulus. Seorang pemimpin nasional dalam sebuah konprensi utusan injil mengatakan bahwa kita harus berhenti menjadi seorang pelaku dan lebih berperan sebagai pelatih. Tugas ini merupakan tugas yang sukar dan memerlukan kecapakan dalam melakukannya.  

Hal ini memerlukan pemikiran yang berhati-hati, perencanaan yang bijaksana, kesabaran yang tidak habis-habisnya dan kasih. Kalau kita berkaca dari apa yang Yesus lakukan kepada murid-muridNya semua hal yang telah dilalui bersama Yesus bukanlah sesuatu yang mengalir begitu saja, Yesus merencanakannya dengan baik. Bukan asal-asalan tetapi dengan perencanaan. Selama 3 tahun Yesus membentuk watak dan disiplin rohani para muridNya. Kita juga harus seperti rasul-rasulNya  seperti Paulus yang mengikuti jejakNya dalam melatih orang-orang muda seperti Timotius dan Titus.  

Kita bisa melihat bagaimana Paulus dulu melatih Timotius, coba kita lihat latar belakang Timotius. Timotius kira-kira berumur 20 tahun ketika Paulus melatihnya. Dibesarkan dengan dikelilingi oleh wanita membuat Timotius punya kecenderungan untuk bersifat kewanita-wanitaan, kesehatannya yang lemah, juga mempunyai sifat penakut. Dia bukanlah orang yang berwatak kuat, terlalu toleransi (mudah kompromi), memihak kepada orang penting. Bisa jadi ia mudah tersinggung dan cepat marah oleh para lawannya, lebih bersandar pada pengalaman rohaninya di masa lampau daripada mengobarkan hal-hal yang baru. Ketika saya membaca ini, sedikit banyak hal-hal ini jugalah yang menjadi karakteristik saya  yang perlu diubah dan dilatih. Ketika melihat semua background ini tidak membuat Paulus mengabaikan timotius, malah dia punya harapan yang besar atas Timotius. Paulus belajar sering mempercayakan hal beasr untuk dikerjakan oleh Timotius, dia tidak mau mengkarbit dia, membiarkannya juga mengalami rasa pahit menghadapi para lawannya.  

Ia mempercayakan kepada Timotius sesuatu yang mengharuskannya menggunakan seluruh tenaganya. Karena bagaimana lagi seorang muda dapat mengembangkan kemampuannya lebih besar lagi selain dengan menanggulangi tugas yang menuntut seluruh tenaganya. Kemudian kita bisa melihat bahwa kepercayaan Paulus atas Timotius tidaklah sia-sia, ia menjadi pemimpin yang cukup besar dan tidak hanya sedang-sedang saja.    

Frank Buchman, pendiri Moral Rearmament berkata “jika ia tidak melatih orang lain untuk mengerjakan dengan lebih baik apa yang bisa dikerjakannya, maka ia gagal.” Jadi harga matinya adalah membentuk seseorang minimal sama seperti kita dan kalau bisa lebih. Sejalan dengan perkataan Yesus dalam Yohanes  14 14:12 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;” Dialah Pemimpin Terbesar dalam hidup kita, Ia tidak menjengkali kita, Dia tidak membatasi kita bahkan malah Dia memberikan standar minimal adalah seperti apa yang Dia lakukan bahkan lebih besar dari itu. Perbedaaan kepemimpinan dunia dengan rohani adalah di kepemimpinan rohani kita berusaha menghasilkan pemimpin yang jauh lebih baik dari kita supaya mereka dapat menggantikan kita.  

Douglas Thornton menegaskan ada 2 hal yang harus diperhatikan. Pertama bagaimana orang-orang muda yang dilatih untuk belajar mengamati secara tepat, mengupgrade kualitasnya dan bukannya menuntut penyerahan tongkat kepemimpinan saja. Kedua, sebagai yang melatih kita harus belajar mempercayakan seseorang, karena kita tidak akan pernah tahu kapasitas seseorang kalau tidak pernah dipercayakan sesuatu kepadanya. Belajar untuk melatih dengan penuh kesabaran kalau yang dilatih belum melakukan seperti yang bisa kita lakukan. Kedua hal ini merupakan hal yang sukar namun penting untuk masing-masing baik yang melatih dan yang dilatih untuk sama-sama mengerjakan bagiannya tanpa menuntut.  

Proses latihan ini tidak dapat dilakukan seperti pabrikan dalam jumlah yang banyak sekaligus, persiapan ini juga tidak dapat hanya dilakukan dengan sistem kelas kepemimpinan. Murid tidak dibentuk secara borongan. Latihan ini memerlukan kesabaran, kehati-hatian, hubungan pribadi dengan orang yang akan dilatih dan butuh waktu yang tidak singkat. Mereka dilatih satu-persatu. Tuhan juga sendiri akan ikut ambil bagian dalam pendisiplinan calon pemimpinNya.    

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s