Kepemimpinan Rohani · Ringkasan Buku

BAB 19. Bahaya-bahaya Khusus Bagi Seorang Pemimpin

leader-B

1 Korintus 9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Sebagai seorang pemimpin kita tidak kebal dari bahaya, ada bahaya-bahaya yang terus mengintai kita. Iblis yang tidak mengenal lelah adalah musuh yang tidak mengenal belas kasihan yang akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menjatuhkan pemimpin. Adapun 9 hal yang menjadi momok bahaya bagi seorang pemimpin:

#1. Kesombongan

Kesombongan adalah dosa yang paling tidak disadari oleh korbannya. Dosa kesombongan adalah dosa yang sangat dibenci Tuhan. Amsal 16:5 Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman. Seorang pemimpin yang puas akan diri sendiri dan kebanggan yang terselubung jika tidak dibendung maka akan diserang oleh dosa kesombongan. Dosa ini membuat kita menggeser Allah dari takhta kehidupan dan menempatkaan diri diatasnya.

Ada 3 ujian yang bisa menjadi indikator kesombongan dalam hidup kita:

Ujian mengenai hal dibelakangkan:

  • Bagaimana reaksi kita jika orang lain dipilih untuk menjalankan tugas yang kita harapkan?
  • Bagaimana jika orang lain yang diusulkan namun kita dilupakan/
  • Bagaimana jika ada orang lain yang melebihi kita di dalam karunia dan prestasi?

Ujian Kejujuran

  • Bagaimana reaksi kita jika yang orang yang secara rohani ada dibawah kita atau bahkan musuh kita yang mengatakan tepat seperti apa kita?

Ujian Kritik

  • Apakah kritik menimbulkan kebencian dalam diri kita?
  • Apakah kita akan segera membenarkan diri sendiri?
  • Apakah kita akan segera membalas kritik?

#2. Mementingkan Diri Sendiri

Mementingkan diri sendiri berarti berpikir dan berbicara banyak mengenai diri sendiri, kebiasaan untuk membesarkan prestasi dan kepentingan diri sendiri.  Ada ujian yang akan menilai kita apakah kita adalah orang yang mementingkan diri sendiri atau tidak, yaitu dengan memperhatikan respons kita ketika kita mendengar pujian buat orang lain yang setara dengan diri kita.  Nah kalau ktia tidak dapat mendengarkan pujian bagi seorang saingan tanpa suatu keinginan untuk menguranginya atau mencoba meremehkan pekerjaannya berarti kita masih memiliki sifat yang mementingkan diri sendiri.

#3. Iri Hati

Iri hati sangat erat dengan kesombongan. Orang yang iri hati akan bersikap kuatir dan curiga terhadap saingan bahkan rekan sekerjanya. Satu kisah saat yosua berusaha membela Musa karena Eldad dan Medad kepenuhan juga seperti Musa. Tetapi respons yang perlu kita pelajari dari Musa adalah Musa tidak pernah merasa terancam dengan eksistensi dua orang ini.  Dia memandang dirinya sebagaimana Tuhan memandang dirinya, tidak ada rasa tidak aman di dalamnya. Musa tidak memberikan tempat bagi iri hati di dalam kepemimpinannya. Musa lebih mengutamakan kemuliaan Tuhan dan tidak kuatir dengan nama baik dan hak-haknya.

#4. Kepopuleran

Kepopuleran juga akan menyerang pemimpin yang tidak matang secara rohani dan kedagingan. Memberi hormat secara berlebihan terhadapa salah seorang pemimpin mempunyai potensi bahaya laten yang tersembunyi. Memang tidak salah mempunyai pemimpin yang dicintai oleh orang-orang yang sudah dilayani dengan kesungguhan hati, tetapi selalu ada bahaya bahwa pemujaan itu akan dibelokkan dari kepada Tuhan menjadi kepada hambaNya.

Kepemimpinan yang berhasil adalah apabila dia berhasil mengarahlan cinta para pengikutnya lebih besar kepada Kristus daripada kepada dirinya sendiri. Kita memang akan merasa dikuatkan apabila kita mengetahui orang yang kita layani menghargai kita, tetapi janganlah kita mau sampai dipuja-puja. Tentu saja ketidakpopuleran tidak ada kebaikannya, tetapi ketenaran harus dibayar sangat mahal.

Uskup Stephen Neill berkata: “Kepopuleran adalah keadaan rohani yang paling berbahaya yang dapat dibayangkan, karena dapat sangat mudah membawa kepada kesombongan rohani yang akan menyeret orang ke dalam kehancuran. Ini adalah suatu gejala yang harus benar-benar dijaga, karena seringkali harus dibayar begitu mahal, yaitu dengan berkompromi dengan dunia.”

Spurgeon juga mengiyakan bahwa kepopuleran dan sukses selalu menjadi ancaman bagi dirinya. “ Sukses dapat memabukkan saya dan pasti memabukkan saya. Seandainya saya tidak mengingat bahwa Allahlah yang menyempurnakan pekerjaan itu. Ia dapat terus berbuat itu tanpa pertolongan saya.”

#5. Tidak Bersalah

Seroang pemimpin tidak mungkin lepas dari yang namanya kesalahan. Dipimpin oleh Roh Kudus jelas pasti akan membuat orang yang dipimpinNya akan mempunyai resiko paling kecil dalam membuat kesalahan jika dibandingkan dengan orang yang tidak dipimpin oleh Roh Kudus namun karena kita masih ada di dalam daging maka kita bahakan seorang yang penuh Roh pun dapat melakukan kesalahan.  Bahaya tidak bersalah ini adalah bahaya yang sangat halus yang dapat meyerang seorang pemimpin khususnya untuk pemimpin yang lebih mengenal Tuhan lebih baik dari rekan-rekannya

Kerelaan untuk mengakui bahwa kita mungkin bersalah dalam menilai dan menghormati penilaian rekan-rekan kita akan menguatkan dan bukan mengurangi pengaruh. Menanggap diri tidak dapat bersalah malah akan menyebabkan hilangnya keyakinan. Sikap mengakui seperti ini hanya dapat dilakukan jika kita memiliki kerendahan hati yang sejati.

#6. Merasa Sangat Diperlukan

Nah kalau kita mempelajari bab 17 kita harusnya tahu bahwa sebenarnya tidak ada seorangpun yang tidak dapat tergantikan kecuali Yesus. Dan kesadaran akan hal ini akan membuat kita akan tetap rendah hati dan berhati-hati dengan kesombongan. Banyak pemimpin yang jatuh di area ini diman mereka merasa tidak ada seorangpun yang dapat menggantikannya. Menganggap dirinya sangat diperlukan bahkan merasa tanpa dirinya maka kegerakan Tuhan dalam pelayanan yang dipimpinnya akan berhenti.

#7. Kegirangan Dan Kemurungan

Seorang pemimpin di dalam pelayanannya mau tidak mau pasti akan menemukan moment-moment dimana dia akan mengalami kemurungan atau kekecewaaan, maupun hari-hari dimana menanjak dan membuat prestasi. Tidak mudah bagi kita untuk menemukan jalan tengah untuk terus constant mengalami kegirangan maupun kemurungan.  Yesus mengajar ke 70 muridNya bagaimana membendung kegirangan yang  wajar namun berlebih secara emosional dari pelayanan merka yang berhasil. Tuhan juga memperbaiki sikap kemurungan yang berlebihan yang dimiliki elia yang bereaksi mengasihani diri sendiri.

Hal yang perlu kita sadari adalah cukup realistis untuk menghadapi kenyataan bahwa tidak semua cita-cita kita untuk pekerjaan Allah akan terwujud. Orang-orang yang dipuja ternyata mempunyai banyak kelemahan. Tetapi seorang pemimpin yang dewasa rohani tahu bagaimana menemukan sumber kemurungan dan sumber kekecewaan yang sebenarnya dan akan menghadapinya sebagaimana mestinya.

C.H.Spurgeon mengatakan bahwa” sebelum suatu prestasi yang besar, biasanya ada kemurungan….kemurungan seperti ini saya alami jika Tuhan sedang mempersiapkan suatu berkat yang besar dalam pelayanan saya.”  Pada saat semua pelayanan kita berhasil, pada saat inilah pemimpin rohani yang dewasa mengetahui siapa yang layak mendapat mahkota kesuksesan itu kepada Tuhan. Robert Murray McCheyne biasa berlutut dan secara simbolis menyerahkan mahkota kesuksesan itu kepada Tuhan, yang berhak memilikinya. Kebiasaan ini mencegah dia dari kesombongan. Samuel Chadwick berkata: “Kalau berhasil, jangan berkokok; kalau tidak berhasil jangan berkeok-keok.”

#8. Nabi Atau Pemimpin?

Sebagai pemimpin kadang kita akan dihadapkan pada situasi kita harus menjalankan peran sebagai pemimpin yang populer atau nabi yang tidak populer. Pertanyaannya peran manakah yang harus kita jalankan sebagai seorang pemimpin? Dr. Reuben A. Torrey memberikan kita contoh bagaimana dia tetap lebih memilih untuk menjadi nabi yang tidak populer daripada menjadi seorang pemimpin yang diplomatis. Ia tidak berkompromi dengan pilihannya, dan hal inilah yang menjadi rahasia kuasanya dengan Allah dan manusia.

#9. Penolakan

Paulus dalam segala keberhasilan dan pengorbanan yang telah dialkukannya ada ketakutan tersendiri yang dimiliki Paulus dalam hidupnya. Yaitu ketakutan akan penolakan, takut dimana setekah dia memberitakan injil kepada orang lain, ia sendiri ditolak (1 Korintus 9:27). Kata “dibuang” atau “ditolak” biasanya dipakai untuk logam yang tidak tahan uji karena gagal mencapai ukuran yang dikehendaki. Paulus berbicara mengenai kemungkinan ditolak karena gagal mencapai hadiah yang didambakan, bukan ditolak untuk mengikuti perlombaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s