Bertelapak Rata

ARMY-620_1626389a

Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa  suatu hari nanti  ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu  pandai dan memiliki  ciri-ciri  yang lebih daripada cukup untuk dapat membawanya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Allah, oleh karena ia adalah seorang  anak yang takut akan Allah dan ia selalu berdoa  agar supaya suatu hari nanti impiannya itu  akan menjadi kenyataan.

Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk  bergabung dengan Angkatan  Darat, ia ditolak oleh karena memiliki  telapak  kaki rata. Setelah berulang  kali berusaha, ia kemudian melepaskan  hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Allah  yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri,  dengan  perasaan yang kalah,dan di  atas segalanya, rasa amarah yang belum  pernah dialaminya sebelumnya.

Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Allah. Ia tahu bahwa Allah ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang  sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi  berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Allah yang Maha Pengasih, maka ia akan  mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

Ia kemudian memutuskan untuk  masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter  dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia  menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak  memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda  ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.

Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu  jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru. Setelah ia menjadi lebih tua maka ia  melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah  barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan.

Pada suatu  hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan yang telah dibangkitkan. Di  situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Allah mengapa  doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, “Pandanglah ke  langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.”

Di  sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki laki yang  berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan  Darat dan menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan  mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah  resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama,  akan tetapi  ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan  membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam  peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya  menangis dan terus menangis.

Lalu Tuhan berkata, “Sekarang  lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak  setuju.”Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia  memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan  berapa banyak jiwa yang telah  diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah  anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.

Kemudian di antara para pasiennya, ia  melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi  seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat  bagaimana ia telah  menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan  yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki  itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya. Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan  ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Allah telah  memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan  beribu-ribu jiwa, dan memberikan  masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit  itu.

(Diambil dari Inspirational Christian Stories oleh Vincent Magro-Attard)

Untuk dapat melihat kehendak Allah digenapkan di dalam hidup anda, anda harus mengikuti Allah dan bukan mengharapkan Allah yang mengikuti anda.

 (Dave Meyer, Life In The Word, Juni  1997) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s