Meningkatkan Pelayanan Anda · Ringkasan Buku

BAB 1. SAYA? SEORANG PELAYAN? BERCANDA KAMU?

image

Ketika membaca dari pendahuluan dan bab 1 saya mendapat refresh kembali tentang arti seorang pelayan yang sesungguhnya. Buku ini terinspirasi dari apa yang tertulis di dalam Markus 10:45 yang mengatakan: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Ada 2 hal mengenai arti seorang pelayan yang sesungguhnya yaitu “UNTUK MELAYANI” dan “UNTUK MEMBERI” bukan dilayani, bukan menjadi pusat perhatian, bukan pula untuk mencari nama, mencari sukses, kekuasaan dan bahkan tidak pula menjadi idola.

Pelayan adalah orang-orang yang dengan tulus memberikan diri mereka kepada orang lain tanpa memperdulikan siapa yang mendapat kemuliaan. Melayani dan memberi bukanlah hal yang otomatis ada pada setiap orang. Menjalankan kehidupan dengan tidak mementingkan diri sendiri adalah sebuah seni! Untuk menjadi seorang pelayan yang baik tidak harus berotak cemerlang untuk menarik kebenaran-kebenaran dalam hidup anda. Cukup memiliki kerelaan hati.

Dalam Roma 8:28-29 berkata 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Kita ditentukan dari semula untuk serupa dengan Kristus, dalam hal apa kita serupa Kristus? Markus 10:45 berkata : Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”. Hal yang paling membuat kita menjadi serupa dengan Kristus adalah ketika kita mulai melayani dan memberi.

Tuhan ingin membentuk kita agar memiliki karakter yang telah menjadikan Kristus berbeda dari orang-orang lain pada jamanNya. Tidak ada hal yang lebih menyejukkan hati daripada melihat seseorang yang berhati pelayan dan memiliki semangat memberi. Seorang yang sangat terkenal (kolonel Irwin) yang pernah menginjakkan kakinya di bulan pernah berkata: “Ketika saya kembali ke bumi, saya menyadari diri saya hanyalah seoranmg pelayan – bukan seorang selebritis. Maka inilah saya, di planet bumi ini, sebagai pelayan Tuhan yang membagikan pengalaman saya agar orang lain dapat melihat kemuliaan Allah.” Hal yang menjadi perhatian kita adalah seorang pelayan bukanlah selebritis.

Semua hal di dunia ini yang serba cepat misalkan terburu-buru ke airport, berusaha mengejar dead line, dibebani tanggung jawab untuk membuat keputusan-keputusan penting, berhadapan dengan stress akibat tuntutan orang lain ditambah pengharapan kita sendiri, bisa saja membuat kita dengan mudah melupakan panggilan kita sebagai seorang Pelayan. Lalu apakah kalau di jaman Yesus dahulu murid-muridNya tidak mengalami hal yang sama? Ternyata pada jaman Yesus pun murid-muridNya deal hal yang sama dengan yang kita hadapi sekarang ini. Lihat saja bagaimana Ibu  Yakobus dan Yohanes, selayaknya seorang ibu yang baik terus mencari “peluang” yang dapat menghantarkan anak-anaknya untuk mendapat promosi, maka ia mencalonkan Yakobus dan Yohanes untuk menempati singasana no 2 dan no 3. Ia ingin anakNya makin dikenal orang. Ibu ini ingin orang lain menilai tinggi kedua anaknya itu, yang telah meninggalkan jala mereka dan memasuki pelayanan baru. Bukankah tidak berlebihan jika kedua anakanya juga mempumyai singasana, terutama jika memang mereka sudah termasuk anggota inti dari pergerakan Tuhan. Lalu seperti apa reaksi kesepuluh murid yang lain? Mereka marah (ayat 24). Mengapa mereka marah? Mereka tidak mau menyerahkan singasana begitu saja tanpa perlawanan. Lalu Yesus menegur ibu ini dan berkata bahwa ia tidak tahu apa yang dia minta.

Yesus memiliki standar yang jauh berbeda dengan standar yang ada di dunia ini tentang seorang yang besar. Dalam Matius 20:25-28 berkata” Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Kata “tidaklah demikian” menekankan bahwa kita harus berbeda dengan dunia ini. Dalam Keluarga tuhan hanya ada satu kumpulan besar pelayan dan menjadi pelayan adalah cara untuk mencapai tingkat atas dalam kerajaanNya.

Sindrom Selibritas” acapkali menyerang gereja, kita orang percaya ini sehingga kita melupakan panggilan utama kita yaitu menjadi pengikut Kristus, menjadi seperti Kristus yaitu dalam hal melayani.  Gereja terlalu sibuk dalam perlombaan kesuksesan dan untuk memperbesar gereja. Sungguh tidak mudah untuk menjadi pelayan orang jika kita sudah terbiasa memerintah orang lain. Dalam 3 Yohanes 1:9-10 disebutkan seseorang yang bernama Diotrefes, yang mendapat teguran terbuka yang keras. Diotrefes menjadi peringatan bagi setiap orang yang ingin menjadi “Bos Gereja”. Ia bisa saja seorang anggota majelis, seorang pendeta, seorang pengajar, seorang musikus, seorang mantan pekerja, seorang mantan pendeta dalam sebuah gereja. Tidak peduli siapapun dia, menjalitas “Bos Gereja” tidak mendapat tempat dalam Tubuh Kristus. Hanaya Kristus yang menjadi Kepala. Kita semua adalah pelayan-pelayan. Memang benar tetap dibutuhkan kepemimpinan untuk menyelesaikan panggilanNya dalam hidup kita, namun kepemimpinan  tersebut haruslah kepemimpinan yang dijalankan berdasarkan jiwa seorang pelayan diantara semuanya. Yang paling pen ting disini adalah sikap hatinya.

Paulus adalah contoh yang dapat kita pelajari mengenai kepemimpinan yang melayani. Berulang kali dalam surat-suratnya ia berkata “Paulus, seorang hamba…”. Orang seperti Paulus yang seharusnya dengan mudah bisa mendapatkan perlakuan istimewa atau menuntut kekuasaan besar atas orang lain, justru seringkali menyebut dirinya sebagai seorang “hamba” Tuhan. Ada 3 karakteristik seorang pelayan:

1. Kemanusiaan yang transparan
Ia mengakui kepada teman-temannya di Korintus bahwa ia lemah, takut dan gemetar ketika ia berdiri di hadapan mereka. (1Kor 2:1-3). Dia tidak menutup nutupi kelemahannya, ia bahkan menggambarkan kelemahannya seperti penglihatan yang kabur (gal 6:11). Seorang pelayan yang demikian ia tidak memiliki segalanya dan tidak hidup dalam kehidupan yang terjalin sempurna dan ia tidak menutup-nutupi hal tersebut

2. Kerendahan hati yang tulus
Korintus 2:4 Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.”. bagi seorang pengkotbah, itu bukanlah pengakuan yang biasa. Dia menyatakan tidak hanya ketidakmampuannya untuk meyakinkan, tetapi sekaligus alasannya – agar orang tidak bergantung pada kemampuannya tetapi kepada kuasa Tuhan. Orang yang memiliki kualitas seperti ini dalam kepemimpinan akan membuat yang dipimpin semakin kagum akan Kristus dan bukan kepada kita.

Apabila seseorang mengikuti pemimpin yang mencari nama besar, maka sang pemimpin yang akan diagungkan. Pemimpin tersebut akan menggeser kedudukan Kepala Gereja. Kalau pemimpin memiliki hati pelayan, maka Tuhanlah yang diagungkan, semua untuk kemuliaan Tuhan.

Beberapa hal yang dapat digunakan untuk menguji kerendahan hati adalah:
a. Jiwa yang tidak selalu ingin membela diri ketika dikonfrontasi.
Hal ini menunjukkan kesediaan untuk bertanggung jawab. Kerendahan hati dapat diwujudkan dengan filsafat “Tidak perlu membuktikan, Tidak takut dirugikan.”
b. Keinginan yang  murni menolong orang lain
Kepekaan dan kesadaran yang spontan akan kebutuhan orang lain. Seorang pelayan yang sejati terus memperhatikan pergumulan orang lain. Terus melayani dan memberi.

3. Kejujuran mutlak
Kejujuran memiliki kesederhanaan yang indah dan menyejukkan. Tidak ada motivasi lain, tidak ada maksud tersembunyi. Tidak ada kemunafikan, kepura-puraan, permainan politik atau kata yang dibuat-buat. Jika kejujuran dan integritas yang murni menandai kehidupan kita, maka kita tidak perlu memanipulasi orang lain. Kita tidak akan suka dengan hal-hal yang palsu apabila kita sudah merasakan apa yang namanya kemurnian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s