BAB 2. ALASAN UNTUK TIDAK MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI

image

Saya, milik saya, diri saya sendiri adalah 3 kata yang selalu ada dalam benak bukan pelayan. Salah satu alasan mengapa kita begitu sulit mengesampingkan keegoisan kita dan mengadopsi jiwa seorang pelayan adalah karena kita didorong oleh impian-impian akan kesuksesan. Kita ingin menjadi pemenang. Kita hidup di dalam dunia yang sudah dipenuhi keinginan untuk sukses. Lusinan buku dan majalah setiap tahunnya, bersama sejumlah kaset dan video serta ratusan seminar, menawarkan ide-ide serta cara-cara baru baru memotivasi, masing-masing menawarkan jani akan kemakmuran. Kesuksesan merupakan bisnis besar. Tidak heran mengapa berpikir sebagaimana layaknya pelayan menjadi begitu sulit.

1 Petrus 5:5-7 Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Dari ayat-ayat ini kita dapat mendapatkan 3 hal yang penting berkenaan dengan kesuksesan sejati yaitu: Otoritas, sikap hati dan kekhawatiran.

#1. Tunduklah kepada mereka yang bijaksana
Dengarkan nasihat mereka, bersedia mempertanggungjawabkan perbuatan kita kepada mereka, terbuka bagi teguran mereka, menerima usulan mereka, menghargai pengalaman-pengalaman serta meneladani mereka

#2. Rendahkanlah dirimu dibawah Tangan Tuhan yang perkasa
Dalam perjanjian baru tangan Tuhan melambangkan 2 hal: disiplinNya dan campour tanganNya. Pada saaat kita merendakan diri di bawh tanganNya, memohon Dia memberkati kita dengan jenis kesuksesan yang sesuai dengan kehendakNya, melalui caraNya, dan sesuai dengan waktuNya, berarti kita menerima disiplinNya demi kebaikan dan kemuliaanNya. Kita menolak untuk memanipulasi keadaan, menyiasati orang lain atau mempromosikan diri dengan cara melebih-lebihkan dan mengakui Tuhan di atas segalanya.

#3. Serahkan diri anda dalam kebaikan dan pemeliharaan Tuhan
Kekhawatiran pasti ada tetapi jangan hidup dalam kekhawatiran. Kesulitan dan kekecewaan akan muncul, ketakutan dan kecemasan akan menumpuk, dan bisa membuat anda depresi, so letakkan semua beban itu, serahkan kekhawatiran anda kepadaNya. Menyerahkan segalanya kepada tuhan bukan  berarti tidak boleh berencana atau menetapkan sasaran ataupun bertekun; tetapi maksudnya adalah jangan jadikan kesuksesan sebagi altar pribadikita. Apabila kita melibatkan Tuhan maka hasilnya akan menakjubkan dan kita tidak perlu membanggakan diri atas keberhasilan tersebut

PERSPEKTIF YANG BENAR

#1. Nilai diri yang baik tidak sama dengan keegoisan.
Tanpa kepercayaan diri yang kuat kita akan mudah terluka dan lumpuh dalam hidup ini. Citra diri yang jelek tidak sama dengan kerendahan hati dan bukan pula tanda seorang pelayan. Kenyataannya tanpa ego yang sehat, tanpa keyakinan bahwa Tuhan berserta kita, berpihak kepada kita, dan menopang hidup kita maka kita akan menjadi rapuh, mudah terluka dan tidak produktif. Jangan mencampur adukkan nilai diri yang kokoh dan kuat dengan keegoisan yang sia-sia.

#2. Menjadi orang Kristen bukan berarti keegoisan kita akan hilang secara otomatis.
Kita semua masih terus berjuang melawan keangkuhan hidup.

DASAR ALKITAB

Sebelum kita dapat benar-benar mengatasi suatu masalah, kita perlu mengerti betul-betul masalah tersebut terutama sumbernya. So mari kita bertolak ke masa adam dan hawa. Kondisi awal adam dan hawa adalah tanpa dosa, ayat terakhir dari kejadian 2 mengatakan “mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu tetapi mereka tidak merasa malu”

TELANJANG
Terbuka, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara semosi. Itu sebabnya mereka tidak merasa malu. Tafsiran Bahasa ibrani mengatakan bahwa mereka tidak merasa malu “satu sama lainnya”. Ada keterbukaan yang luar biasa, tidak memiliki kesadaran diri yang kuat satu sama lain. Percakapan, perbuatan serta seluruh keberadaan mereka tidak bersifat membela diri, tidak saling berjaga-jaga dan sama sekali tidak egois.

Hingga dosa masuk, dan dikatakan “maka terbukalah mata mereka berdua….” (Kej 3:7). Mata mereka terbuka, tiba-tiba ada suatu kesadaran yang mengejutkan bahwa mereka telanjang. Kesadaran diri, keprihatinan terhadap diri sendiri serta keegoisan muncul dalam hidup mereka. Dan seperti yang ktia tahu akhirnya mereka bersembunyi dari Tuhan dan  mulai saling menyalahkan. Kenyataanny hingga jaman sekarang itulah permainan favorit manusia, mencoba bersembunyi dari Tuhan sekalipun selalu kalah dalam permainan ini.
Akibat dosa mengakibatkan adam dan hawa:
1. Takut
2. Saling melempar kesalahan
Sampai sekarang pola ini belum berubah, kita sering tidak bersedia mengatakan yang sesungguhnya, kita bersembunyi, kita menghindar, kita berbohong, melarikan diri, saling menyalahkan, mengejek, mendominasi, dan mengkritik. Kita menusuk orang dengan perkataan kita dan kemudian mencari-cari alasan agar kita tidak harus mengetahuinya.

Tidak ada seorangpun dari kita yang bebas dari penyakit ini termasuk seorang pendeta. Sekarang yang memiliki jimat “jangan menyentuh orang yang diurapi oleh Tuhan”. Kecuali Yesus Kristus. Dialah yang memiliki kekebalan terhadap kontaminasi dosa. Hal ini jugalah yang mengakibatkan kita tidak secara alami menjadi seroang pelayan.  Leonard Bernstein, mantan pemimpin orkes besar dari new York Philharmonic mendapat pertanyaan “instrument apakah yang paling sulit dimainkan?” jawabannya sangat bijaksana: “pemain intrumen kedua”. Kita bisa saja dengan mudah mendapat pemain yang bersedia sebagai pemain utama tetapi tidak untuk mendapatlan pemain kedua. Padahal kalau tidak ada orang yang mau bermain sebagai pemain kedua, maka tidak ada keharmonisan.

Filipi 2:3-5
dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

Akhirnya dari semua yang berorientasi dari saya, milik saya dan diri saya sendiri menjadi pribadi yang :
Bukan orang yang selalu mau mendapatkan, tetapi orang yang memberi.
Bukan orang yang menyimpan dendam, tapi orang yang memberi.
Bukan orang yang mengingat-ingat kesalahan, tapi orang Yang melupakan.
Bukan sekarang bintang, tetapi sekarang pelayan.

Harga dari sebuah hati pelayan sangatlah besar seperti cerita seseorang yang mau memberi sebuah mutiara yang haganya adalah keseluruhan apa yang dia punyai termasuk dirinya sendiri. Dari dunia seputar diri kita menjadi ke arah Tuhan. Dari me, mine, myself kepada God God God.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s