BAB 3. SEORANG PELAYAN SEBAGAI ORANG YANG MEMBERI

image

Ada banyak cara orang menggambarkan tentang pelayan, tetapi Yesus menggambarkannya dengancara yang berbeda. Banyak filsuf yang mendeskripsikan arti seorang pelayan amun ujung-ujungnya bermuara ke diri sendiri. Sampai-sampai ada sebuah lelucon yang berkata para filsuf adalah”orang yang membicarakan sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti, namun kemudian membuat anda berpikir,itu kesalahan anda.”. semua pemikiran dari para fulsuf yang terkenal kebanyakan berpusat pada diri sendiri. Sama seperti pembahasan yang lalu hanya seputar me, my self dan mine.
Yesus berkata, “Jadilah seorang pelayan, berilah kepada orang lain.” Inilah filsafat yang dapat dimengerti oleh semua orang. Fil 2:3-4 berkata “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
Tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian artinya tidak membiarkan kedua kecenderungan itu mengontrol kita! Janga biarkan kedu hal ini mendapat tempat dalam diri kita. Gantikan keduanya dengan “kerendahan hati”. Bagaimana caranya? Dengan menganggp yang lain lebih utama dari diri kita sendiri. Carilah cara untuk mendukung, menguatkan, membangun dan mendorong orang lain. Dan hal tersebut memerlukan sikap seorang yang lebih suka memberi daripada menerima.

Pikiran yang rendah hati adalah suatu siap hati, suatu mentalitas yang suah disetel begitu rupa yang bias berpikir seperti:
· “saya peduli dengan sekitar saya.”
· “Mengapa harus selalu saya yang utama?” kali ini saya ingin menolong orang lain untuk menang.”
· “Hari ini, saya memiliki keinginan yang sungguh-sungguh untuk mengekang keinginan saya untuk bersaing dnegan hebat, dan sebaiknya saya akan memakai energy tersebut untuk memberi semangat paling tidak kepaa satu orang lain.”
· “dengan rela saya melepaskan cara saya. Tuhan, tunjukkan saya bagaimana Engkau akan berespons kepda orang lain, danbiarlah hal itu yang saya lakukan.”
Baiklah kita mmbaca beberapa ayat yang mengajarkan kita bagaimana seharusnya menjadi seorang pelayan:

Roma 12:10-13
“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!”

2 Korintus 4:5
“Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.”

2 Korintus 5:14-15
“Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.”

Galatia 5:13
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”

1 Teslonika 2:7-8 ; 5:11
“Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.”

“Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.”

Ibrani 10:24
“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.”

Menjadi seorang pelayan bukan berarti harus rendah diri. Kerendahan ahti yang sesungguhnya tidak boleh disalahartikan dengan ketidakmampuan atau kurangnya nilai diri. Seorang yang bergumul dengan citra diri yang tidak sehat tidak akan mampu memberi kepada orang lainseara benar dan memadai. Sikap rendah diri tidak dapat berdampingan dengan sikap tidak mementingkan diri sendiri.

Ada 3 hal utama bagi seorang pelayan yaitu memberi, memafkan dan melupakan. Ketiga dasar ini akan muncul ketika kita merenungkan kebenaran dari Filipi 2:3-4 (memperhatikan kepentingan orang lain” atau Galatia 5:13 (melayani orang lain dengan kasih). Kita tidak lagi selalu ingin menerima, sebalknya kita akan mulai mncari cara untuk memberi. Kita tidak lagi selalu menyimpan dendam kepada orang-orang yang menyakiti kita, sebaliknya kita akan berkeinginan untuk memaafkan. Dan kita tidak lagi mengingat-ingat apa yang telah kita lakukan atau siapa yang telh kita bantu, tetapi dengan sukacita kita melupakan perbuaatan-perbuatan baik kita dan tidak ingin diperhatikn. Kehausan kita akan pengakuan orang lain akan hilang secara nyata.

Di bab ini kita akan membahas khususnya mengenai seorang pelayan yang memberi. Yakni seorang yang dengan cepat, rela hati, dan dengan murah hati memberi agar orang lainboleh mendapat manfaat dan bertumbuh.

BAGAIMANAKAH SEORANG PELAYAN HARUS MEMBERI?

Paulus mengajarkan kita tentang sifat seorang pelayan yang memberi dari kisah di 2 Korintus 8:1-5:
“Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.”

#1. Tidak ingin dikenal

Salah satu bukti dari pelayanan yang sejati adalah tidak ingin dikenal. Apabila kita menerapkan seni hidup yang tidak mmentingkan diri sendiri, kita lebih suka tetap tidak dikena. Bahkan kebnyakan orang yang penulis kenal yang memiliki hati seorang pelayan akan sangat risih apabil nama mereka disorot.

#2. Murah Hati

Ketika mereka memberi, sukacita mereka meluap, mereka dengan rela dan dengan pengorbanan memberi “melampai” kemampuan mereka. Pemberian mereka mengalir dengan kemurahan hati yang disertai pengorbanan. Ingat memberi disini tidak serta merta hanya sebatas uang belakan namun waktu, tenaga, perhatian dan kasih sayang kita. Ornesiforus merupakan contoh seorang pelayan yang kita perlukan: murah hai disertai dengan pengorbanan ketika ia terus berusaha mencari Paulus dan melakukannya dengan usaha keras.

#3. Sukarela

Jemaat di makedonia memberi dengan sukarela, bukan Karena ada orang yang memaksa mereka. Salah satu cara terbaik untuk membimbing orang lain memiliki jiwa yang rel adalah dengan memberi contoh. Hal ini mencakup hal-hal seperti menjngku orang tanpa diminta, dan peka merasakan kepedihan orang tanpa diberitahu.

#4. Secara Pribadi

Kita tidak mungkin bisa memberikan diri kita kepada orang lain sementara kita menjaga jarak atau tidak hadir secara pribadi. Keterlibatan pribadi amatlah perlu, sehingga dibutuhkan penyesuaian jadwal kita dengan kebutuhan orang lain. Keterlibatan secara pribadi seperti itu akan memperlihatkan kesungguhan dari kata-kta kita. Memberikan diri kita kepada Tuhan dan kepada orang lain menuntut lebih banyak hal dari sekedar kata-kata yang diucapkan.

Menurut kelima ayat pertamadalam2 Korintus 8, untuk menjadi seorang pelayan yang sejati diperlukan orang-orang yng memiliki kecintaan untuk memberi tanpa dikenal, tanpa menahan-nahan, tanpa segan-segan, dan tanpa membatasi diri. Dan orang seperti itu sulit untuk ditemukan !

BERAPA HARGA YANG HARUS KITA BAYAR SEWAKTU KITA MEBERI?

Mengikut Kristus sebagai muridNya adalah suatu keputusan yang mahal dan tidak egois. Diperlukan pengujian yang radikal terhadap gaya hidup kita yang berpusat pada diri sendiri. Hal yang mudah dikatakan namun sulit untuk dilakukan.

#1. Penyangkalan Diri dan Pikul salib
Mereka yang ingin mengikut Dia dari dekat  harus berhadapan dengan penyangkalan diri. Dan yang kedua keputusan untuk memberikan diri kepada orang lain (memikul salib) adalah masalah sehari-hari.

#2. Mengadakan Evaluasi Diri yang Menyeluruh

Kita perlu memeriksa sikap kita yang selalu ingin menguasai, cenderung menimbun dan menahan kekayaan, padahal seharusnya kita menginvestasikannya untuk hidup orang lain.

#3. Berpegang Teguh pada Komitmen
Untuk memulai sesuatu pasti akan mempunyai semangat yang sangat bergelora, namun bersamaan dengan berjalannya waktu, kegairahan tersebut sudah mulai hilang. Motivasi spontan untuk memberi kini berubah menjadi marathon yang menyengsarakan dan berkepanjanan. Paulus berkata “Teruskan!” Berpegang teguh pada komitmen apa pun merupakan hal yang mahal.

APAKAH HAL TERSEBUT BERHARGA UNTUK DIJALANKAN?

Meskipun pada waktu memberi kita harus membayar harg yang mahal dan tidak banyak teladan yang dapat kita temukan di sekeliling kita, namun penulis mendoron kita untuk menjadi orang yang berbeda. Ketika kita memberi, maka pada saat itulah kta paling mirip dengan Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s