Meningkatkan Pelayanan Anda · Ringkasan Buku

BAB 4. SEORANG PELAYAN SEBAGAI ORANG YANG RELA MENGAMPUNI

image

Mengampuni bukanlah mata pelajaran pilihan di dalam kurikulum pelayanan. Tetapi merupakan pelajaran yang wajib, dan tidak mudah untuk lulus ujiannya. Kisah seorang yang diberi nama Samaran  Aaron yang akhirnya meminta pengadilan membebaskan orang yang diperkarakannya dan juga rela menjalani hukuman dari para berandal yang telahmenyiksanyasangat tidak masuk diakal hakim yang akhirnya tetap menjebloskan para berandal tersebut. Kasih yang demikian tidaklah dapat dimengerti oleh orang banyak. Hanya ketika Aaron teringat akan apa yang telah Yesus lakukan buatnya yang memampukan akhirnya dia bisa mengampuni mereka dan bahkan rela menggantikan posisi mereka untuk menerima hukuman. Hal ini jugalah yang akhirnya menuntun sebagian besar para berandalan itu untuk mengenal Kristus.
Untuk dapat belajar tentang pengampunan kita perlu mengerti tentang:

PENGAMPUNAN TUHAN BAGI KITA

Mengampuni (seperti halnya member) akan meningkatkan pelayanan kita! Pengampunan Tuhan bagi kitalah yang memampukan kita untuk bisa mengampuni orang lain. Demi kita Yesus mengorbankan diriNya sebagai pengorbanan yang sifatnya tidak terbatas oleh ruang waktu…sehingga memungkinkan semua orang yang berpaling dan beriman kepada Yesus mengalamipengampunan Total, satu kali namun berlaku untuk selamanya.

PENGAMPUNAN ANTARA SESAMA KITA

Hanya ada 2 kemungkinan: kita yang bersalah atau kita yang menjadi korban. Namun apapun kemungkinan itu, kitalah yang harus duluan berinisiatif dulu. Seorang pelayan yag sejati tidak menyimpan dendam.

Efesus 4:31-32
Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Mari kita lihat dari dua sisi pengampunan ini:

A. Ketika anda adalah orang yang melakukan kesalahan

Matius 5:23-24:”Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”

Ada  4 hal yang harus kita lakukan:
1.  Berhenti “Tingalkan persembahanmu di depan mezbah itu”
2. Pergi “pergilah”
3. Berdamai “Berdamailah dahulu dengansaudaramu”
4. Kembali “Lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu.”

Kuncinya adalah kata “berdamai”. Kata ini berasal dari kata kerja dasar dalm bahasa Yunani yang berarti “mengganti, mengubah”…ditambah dengan sebuah awalan yang berarti “melalui”. Dengan kata lain kita diperintahkan untuk melalui suatu proses yang akan menghasilkan perubahan. Di ayat ini jelas bahwa orang yang bersalah harus berinisiatif mengambil tindakan.

Ada beberapa pertanyaan yang sulit yang mungkin timbul di dalam proses ini misalkan:

#1. Bagaimana kalau ia tidak mau mengampuni?
Yang paling penting untuk anda ingat adalah kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Dengan motivasi yang benar, jiwa yang tulus, waktu yang tepat, serta ketaatan kepada Tuhan, kita merendahkan diri (ingat kita sedang mengembangkan jiwa seorang pelayan) dan mencoba untuk menyelesaikan masalah. Tuhan akan menghargai usaha kita.orang yang terluka membutuhkan waktu untuk puih dari rasa terkejutnya dan kemudian membiarkan Tuhan mengubah hatinya. Dan ini kadang membutuhkan waktu yang lama.

#2. Bagaimana kalau kedaannya malah bertambah parah?
Ketika kita mencoba meluruskan masalah, kita seperti tiba-tiba menggoncangkan kesimbangan di dalam dirinya, sehingga menimbulkan persaan yang lebih tidak enak. Tetapi sekarang itu bukan lagi salah kta. Contohnya Raja Saul dan Daud muda, ketika Daud menjadi ancaman bagi raja Saul yang paranoid, tidak peduli betapa keras usaha Daud untuk menenangkan hati Saul, keadaanya makin memburuk. Perlu waktu bertahun-tahun bagi sang raja untuk menyadari bahwa Daud benar-benar tulus dalam usahanya membereskan masalah.

#3. Bagaimana kalau saya memutuskan untuk langsung saja berurusan dengan Tuhan dan tidak usah repot-repot serta mengalami rasa malu untuk berbicara dengan orang tersebut?
Memang kita akan lebih cenderung untuk melakukan apa saja yang memudahkan segalanya. Pertam ingatlah bahwa itu menentang perintah Tuhan. Tidak segera pergi adalah ketidaktaatan langsung bahkan hal tersebut mungkin mengakibatkan keadaan yang semakin memburuk.

#4. Bagaimana kalau orang tersebut sudah meninggal?
Dalam kasus unik seperti ini, kita dapat menceritakan perasaan bersalah anda dengan seorang yang dapat dipercayai, seorang teman dekat, seorang konselor, pendeta anda. Kehadiran seseorang yangpenuh pengertian dan yang dapat menguatkan dan memberikan kelegaan yang sanga kita perlukan. Sama seperti kisah waktu Daud yang akhirnya menyadari betapa berdosanya dirinya atas kematian Uria ia mengaku kepadanabi Natan betapa berdosanya ia, dan Natan segera menjawab dengan kata-kata yang menguatkan seperti “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu; engkau tidak akan mati…” (2 Sam 12:13)

B. Ketika Anda adalah orang yang disakiti

Matius 18:21
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

Pertanyaan yang bagus dan relevan. Sejauh mana kita member batasan dalam hal mengampuni? Hari itu Petrus cukup murah hati, karena sebenarnya angka standarnya (menurut para rabi) adalah 3 kali. Petrus bahkan telah melipatgandakan dua kali dan menambahkan . namun Yesus menjawabnya dengan “bukan sampai tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:22). Nah yang dimaksud disini bukanlah secara harafiah 490 kali, namun tidak terbatas.

Seperti perumpamaan tentang Raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya, yang kemudian akhirnya sang Raja murah hatimenghapus utang dari hambanya yan amat besar, namun malah sang hamba tidak mau menghapus utang dari saudaranya yang tidak seberapa itu, yang kemudian sang Raja menyerahksnnya kepada algojo-algojo sampai ia melunaskan seluruh hutangnya (Matius 18:23-34. Beberap hal yang mncul dalam bagian akhir cerita ini memberikanm kepada kita alas an mengapa kita harus mengampuni orang lain:

#1. Menolak mengampuni adalah perbuatan munafik
#2. Menolak mengampuni dapat mengakibatkan siksaan batin bagi kita

BAGAIMANA CARANYA MENGAMPUNI?

#1. Fokus kepada pengampunan Tuhan bagi kita.
Kita hanya dapat mengampuni sejauhmana kita bisa membayangkan pengampunan Tuhan bagi kita

#2. Selesaikan langsung dengan jujur semua kemarahan kepada orang lain.
Disini dikatakan mengampuni dan melupakan, namun apakah kita benar-benar bisa melupakan kejadian itu? Maksud saya seperti mengalami amnesia? Yang lebih tepat sebenarnya adalah mengingatnya dengan cara yang baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s