Meningkatkan Pelayanan Anda

Bab 5. SEORANG PELAYAN SEBAGAI ORANG YANG DAPAT MELUPAKAN

image

Kata “Saya akan memaafkan…TETAPI saya tidak akan pernah melupakan.” Adalah kata paling pasaran yang bisa kita dengar dalam setiap akhir dari sebuah konflik. “Tidak dapat melupakan “ adalah respons yang paling wajar yang biasa dam kita anggap wajar namun hal ini sebenarnya justru dapat mendatangkan akibat yang tragis. Tidak mampu untuk mengampuni dan melupakan adalah seumpama membangun menara kedengkian yang akan membawa kita pada masalah yang lebih serius. Banyak gereja yang akhirnya pecah hanya karena masalah yang sepele dan kemudian berpiutar ke arah yang berlainan, memisahkan diri dan bersikeras pada pendiriannya secara membabi-buta?

Seorang pelayan seharusnya memiliki jiwa besar. Cukup besar untuk terus maju, mengingat –ingat kebaikan dan melupakan kesalahan. Seperti pepatah kuno yang mengatakan “Tuliskan luka-lukamu diatas debu, dan keuntungan-keuntungan di atas marmer.”

DAPATKAH PIKIRAN KITA BENAR-BENAR MELUPAKAN?

Dr. Earl Radmacher menggambarkan : “Pikiran manusia laksana sebuah computer yang hebat. Kenyataannya tidak ada seorang pun yang mampu merancang sebuah computer yang serumit dan seefisien seperti pikiran manusia. Pikirkanlah ini: Otak Anda mampu mencatat 800 ingatan per detik selama 75 tahun tanpa pernah merasa lelah….” Tubuh kita bisa menjadi lelah, tetapi otak kita tidak pernah lelah. Para Ahli mengatakan bahwa manusia sebenarnya hanya menggunakan tidak lebih dari 2% dari kemampuan otaknya. Kita tidak akan pernah benar-benar melupakan sesuatu; kita hanya tidak mengingatnya lagi. Setiap hal tersimpaan secara permanen di otak kita.
Nah yang perlu kita mengerti adalah bahwa melupakan disini bukan berarti melupakan dalam pengertian secara teknis atau harafiah. 1 Korintus 13:4-5 : “13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” Dalam terjemahan J.B. Phillips ayat-ayat ini dijelaskan seperti:
Kasih yang saya bicarakan disini adalah kasih yang tidak gampang kehilangan kesabaran; selalu mencari cara untuk membangun. Kasih tidak bersifat ingin menguasai; juga tidak terus menerus berupaya untuk mempesona atau mengharapkan pujian-pujian yang melambung atas kehebatan diri sendiri. Kasih berkelakuan yang baik dan tidak mengejar keuntungan pribadi yang egois. Kasih tidak mudah tersinggung. Tidak juga menyimpan dendam atau iri terhadap kejahatan orang lain. Sebaliknya, kasih bersukacita bersama-sama dengan semua orang yang baik ketika kebenaran bertakhta.

ketika mempraktekkan kasih yang tulus, maka para pelayan sejati tidak akan menyimpan dendam. Webster memeberikan definisi lupa senagai “hilang ingatan akan…memperlakukan dengan sikap acuh tak acuh atau tidak memperdulikan….tidak memperdulikan dengan sengaja MENGABAIKAN: berhenti mengingat atau memperhatikan… gagal menyadari pada waktu yang tepat”.

Oleh sebab itu, jikalau kita berbicara mengenai “melupakan”, maka maksudnya adalah:
· Menolak untuk menyimpan dendam (1 Korintus 13:5)
· Mampu menahan diri dari melakukan pelanggaran (Mazmur 119:165)
· Tidak memiliki sikap menghakimi (Matius 7:1-5)

Dan sebenarnya bukan hanya hal yang buruk saja yang harus kita lakukan, tetapi juga perbuatan yang baik pun harus kita lupakan. Tidak perlu berupaya menunjukkan betapa baiknya kita. Meningkatkan pelayanan kita mencakup juga melupakan jasa pelayan kita.

LEBIH JAUH LAGI TENTANG PELAYANAN

Filipi 3:12-14
“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Di dalam ayat ini teruangkap 3 pernyataan:
1. “Aku belum menangkapnya.”
2. “Aku melupakan apa yang telah di belakangku.”
3. “Aku mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapanku.”
Dari ini kita bisa mendapatkan 3 ciri sikap penting dari sikap seorang pelayan: rentan, rendah hati, dan bertekad bulat.

RENTAN

Kurang dari tiga kali dalam Filipi 3:12-13:
1. “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini..” (ay 12)
2. “….atau telah sempurna” (ayat 12)
3. “….Aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya….”(ayat 13)

Rentan berarti rela menyatakan kebutuhan-kebutuhan pribadi, mengakui keterbatasan dan kegagalan yang dimiliki, memiliki jiwa yang ma uterus diajar, dan yang terutama enggan dianggap ahli, orang yang serba tahu, atau orang yang memiliki kuasa untuk menentukan. Nah masalahnya seringkali kita menginginkan reputasi Kristen lebih daripada kita menginginkan Kristus.

RENDAH HATI

“Aku melupakan apa yang telah dibelakangku” adalah suatu pernyataan bahwa dia bukanlah orang yang terpaku pada masa lalu. Dia tidak menghiraukan prestasi-prestasi dan juga kesalahan-kesalahan orang lain terhadapnya. Paulus adalah orang yang rendah hati, ia melupakan apa yang ada dibelakangnya. Dengan sengaja ia tidak mengingat-ingat mereka yang telah bersalah kepadanya. Salah satu contoh tokoh alkitab yang juga sama adalah Yusuf tidak mengingat-ingat sakit hatinya. Malah anak pertamanya diberi nama Manasye yang dalam Bahasa Ibrani artinya “lupa” Kejadian 41:51:” Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.”

Yesaya 54:4-5
Janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu-sipu. Sebab engkau akan melupakan malu keremajaanmu, dan tidak akan mengingat lagi aib kejandaanmu. Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi.

Tuhan berjanji bahwa kita dapat melupakan oleh karena Dia sendiri yang akan menggantikan tempat bagi kenangan-kenangan pahit.

BERTEKAD BULAT

Seorang pelayan yang menolak untuk berhenti dan berlabuh pada masa lampau adalah seseorang yang mengejar tujuan-tujuan pada masa depan. Orang seperti ini jarang sekali yang picik. Mereka terlalu sibuk untuk melaksanakan pekerjaannya sehingga tidak ada waktu memikirkan masalah-masalah dan kepahitan-kepahitan masa lalu.

SEBUAH TANTANGAN : DUA PERTANYAAN

1. Adakah seseorang atau sesuatu yang tidak ingin saya lupakan, yang telah menghambat saya untuk berbahagia dan produktif?
Jika jawabannya ada, berhentilah dan nyatakan itu secara terbuka kepada Tuhan, mintalah agar Ia yang membuang kepedihan dan kepahitan tersebut.
2. Apakah saya telah menjadi korban perasaan mengasihani diri, dan menjalani kehidupan di dalam kelumpuhan emosi akibat penderitaan dan keputusasaan?
Jika jawabannya ya, berhenti dan pikirkan apa yang akan anda alami jika anda terus menerus memberi alasan untuk depresi anda itu, dan bukannya menyerahkan kepada Dia yang mampu menghilangkannya.

Kalau anda berpikir “sudah terlambat”, “sudah terlalu tua untuk berubah”. Keadaan anda “terlalu berat untuk diatasi…” maka ingatlah jangan lupa bahwa kita tidak akan pernah terlambat untuk memulai yang benar. Tidak akan pernah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s