Uncategorized

Bertukar Pikiran


SCRIPTURE
Kisah Para Rasul 17:17
Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ.

Acts 17:17  AMP
So he reasoned and argued in the synagogue with the Jews and those who worshiped there, and in the marketplace [where assemblies are held] day after day with any who chanced to be there.

OBSERVATION
Pernahkah anda bertukar pikiran dengan orang lain? Atau pernahkah ada orang yang menanyai pendapat kita tentang sesuatu hal? Pernahkah ada orang yang bertanya tentang solusi atas masalah yang mereka hadapi dan mereka bertukar pikiran dengan anda? Saya rasa setiap kita pasti pernah mengalaminya. Begitu juga dalam kisah ini saya belajar bahwa lewat hal simpel yang Paulus lakukan (yaitu bertukar pikiran) dapat membuat orang-orang akhirnya bisa mendengar kabar keselamatan dan menjadi percaya.

Satu kali Paulus dikatakan datang ke kota Athena dan melihat bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala dan itu membuatnya sangat sedih (ayat1). Inilah alasan yang melatar belakangi kenapa Paulus mau melakukan hal yang boleh dibilang kurang kerjaan. Dia masuk ke rumah ibadat dan bertukar pikiran dengan orang yahudi dan ke pasar setiap hari dan menjumpai siapa saja yang bisa dia jumpai disana.

Yang bisa saya pelajari sampai disini adalah pertama Paulus melakukan hal ini dengan motivasi mengasihi, dia sangat sedih melihat orang-orang di Athena yang menyembah berhala. Dan kedua alasan mengapa dia melakukan itu, karena dia tahu persis bagaimana strategi utk bisa memberitakan orang injil di Athena. Orang-orang Yunani yang ad di kota ini adalah orang yang selalu rindu mencari hal yang baru ( Kisah Para Rasul 17:21  Adapun orang-orang Atena dan orang-orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru.)

Mereka adalah orang-orang yang berpendidikan, punya ilmu yang banyak. Kebudayaan dan bahasa yunani bahkan sangat memiliki pengaruh yang besar di masa itu. Tidak heran Alkitab perjanjian baru ditulis dalam bahasa Yunani. Seperti yang kita ketahui orang yunani sangat terkenal dengan pemikiran filsuf-filsuf mereka.  Mereka sangat bangga dengan filosifi yang mereka miliki Sehingga hal yang paling menarik mereka adalah hal yang belum pernah mereka dengar.

Dan Paulus pun menarik perhatian beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa dengan memberitakan tentang injil tentang Yesus dan kebangkitanNya (ayat 18) dan ia dibawa ke hadapan sidang Aeropagus. Nah sekarang kita akan melihat lebih jauh apa itu golongan Epikuros dan Stoa.

Golongan Epikurean adalah murid-murid sekolah filsafat yang didirikan oleh Epikuros (342-270sM), yang mengajar di taman Atena. Ia mengemukakan teori atomik alam semesta. Atom-atom penyusun manusia tercerai-berai dalam kematian, sehingga tidak ada lagi kehidupan setelah kematian dan tidak ada yang perlu ditakutkan. Dalam bukunya, Etika, Epikuros mengajarkan bahwa hilangnya rasa sakit merupakan kebaikan tertinggi, hal itu terutama merupakan ketenangan pikiran. Kebajikan cenderung mengarah kepada ketenangan ini, karena itu kebajikan merupakan bagian pokok dari kebahagiaan. Mereka mengandalkan pengalaman-pengalaman panca indra untuk mendapatkan pengetahuan, bukan pada penalaran, dan mereka memperhatikan bukti-bukti alami dengan sejumlah kesenangan atau penderitaan dalam hidup. Mereka tidak memuja kesenangan naluriah ataupun kemewahan, seperti anggapan pada umumnya.

Tidak mengherankan, Paulus agak terhambat ketika menghadapi orang-orang Epikurean di Atena pada 50 M. Penerapan Epikureanisme modern sekarang ini telh bergeser diartikan sebagai rasa puas terhadap diri sendiri.

Golongan Stoa atau Stoiki juga terdiri dari para filsuf. Golongan Stoa Yunani hanya mempedulikan usul perkara-perkara alami dan hukum-hukum alam. Menurut mereka, kehidupan yang baik dikendalikan oleh penalaran, bukan oleh emosi. Kemudian hari, Golongan Stoa Roma juga mempedulikan soal-soal etika dan politik. Secara umum, kepercayaan Stoa mengacu pada ketidakpedulian terhadap keadaan-keadaan lahiriah. pada dasarnya golongan Stoa percaya bahwa zat dan kekuatan (yang belakangan kadang-kadang disebut bimbingan ilahi, penyebab, atau Allah) merupakan prinsip-prinsip dasar di alam semesta. Segala sesuatu, bahkan kebejatan dan kebajikan, dianggap sebagai materi oleh golongan Stoa. Karena tidak percaya kepada Allah sebagai Pribadi, mereka beranggapan bahwa segala sesuatu adalah bagian dari dewa yang abstrak dan bahwa jiwa manusia berasal dari sumber itu. Karena mengira bahwa jiwa terus hidup setelah tubuh mati, sebagian penganut Stoa percaya bahwa pada akhirnya jiwa akan binasa bersama alam semesta; yang lain-lain percaya bahwa jiwa akhirnya akan diserap kembali oleh dewa tersebut. Golongan Stoa berkukuh bahwa agar mencapai tujuan tertinggi, yaitu kebahagiaan, orang harus menggunakan penalarannya untuk mengerti dan menyelaraskan diri dengan hukum-hukum yang mengatur alam semesta. Oleh karena itu, bagi mereka menempuh kehidupan yang bajik berarti ’serasi dengan alam’. Menurut mereka, orang yang benar-benar berhikmat tidak peduli terhadap penderitaan atau kesenangan, tidak dipengaruhi oleh kekayaan atau kemiskinan dan sebagainya. Mereka berpendapat bahwa takdir mengatur urusan-urusan manusia, dan apabila problem-problem tampaknya tak tertanggulangi, bunuh diri tidak dianggap tabu.

Setelah untuk suatu waktu bergabung dengan kaum Sinik, Zeno dari Kitium, Siprus, mencetuskan aliran filsafat lain ini sekitar tahun 300 SM. Murid-muridnya disebut golongan Stoa, sesuai dengan nama Stoa Poikile, yaitu beranda berhiaskan lukisan-lukisan di Athena tempat ia mengajar. Filsafat Stoa dikembangkan lebih lanjut khususnya oleh Kleantes dan Khrisipus dan diterima secara luas di kalangan orang Yunani dan Romawi; penganutnya antara lain Seneka, Epiktetus, dan kaisar Romawi bernama Markus Aurelius. Filsafat itu berkembang subur sampai sekitar tahun 300 M.

Seperti halnya golongan Epikuros, golongan Stoa tidak percaya akan kebangkitan sebagaimana yang diajarkan orang Kristen. Jadi, ketika Paulus memberitakan kabar baik tentang Yesus dan kebangkitan, mereka menyebut dia ”si peleter” dan mengatakan bahwa tampaknya ia adalah ”orang yang memberitakan dewa-dewa asing”. Belakangan, setelah dibawa ke Areopagus, Paulus mengutip tulisan para penganut Stoa bernama Aratus dari Kilikia (dalam karyanya, Phænomena) dan Kleantes (dalam Himnekepada Zeus), dengan mengatakan, ”Sebab oleh [Allah] kita mempunyai kehidupan, kita bergerak, dan kita ada, sama seperti yang telah dikatakan oleh beberapa pujangga yang ada di antara kamu, ’Sebab kita juga adalah keturunannya.’”—Kis 17:17-19, 22, 28.

Paulus memberitakan injil di khalayak ramai di dalam sidang areopagus dari bacaan mereka. Paulus mengenal benar apa cara berpikir mereka. Dan memang cara berpikir, mind set merekalah yang paling menghalangi mereka bisa mengenal pribadi Yesus. Dan akhirnya setelah mendengar apa yang diberitkan oleh Paulus ada yang menolak dan ada yang menerimanya dan menjadi percaya ( Kisah Para Rasul 17:32-34  Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.”
Lalu Paulus pergi meninggalkan mereka.
Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka. ). Paulus berusaha mengubah cara berpikir, akal budi mereka karena tanpa perubahan akal budi mereka tidak mungkin bisa mengenal kehendal Allah. (Roma 12:2  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.) Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Paulus di rumah ibdat di efesus dan ini dilakukan selama 2 tahun lamanya sampai semua penduduk Asia mendengar Firman Tuhan ( Kisah Para Rasul 19:10  Hal ini dilakukannya dua tahun lamanya, sehingga semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani.)

APPLICATION
#1. Apakah kita juga memiliki hati yang berbelas kasihan melihat orang-orang yang belum mengenal Yesus dan masih hidup dalam penyembahan berhala?
#2. Mari jadikan Kasih sebagai motivasi kita dalam melakukan apapun. Dan tujuannya cuma satu. Mencari dan menyelamatkan yang hilang. Sama seperti apa yang Yesus cari.
#3. Paulus mempelajari dan memiliki informasi tentang orang-orang yang ada di kota itu, sehingga ia tahu benar bagaimana caranya menarik perhatian mereka dan berkesempatan membritakan injil dengan sangat kontekstual. Apakah kita pernah mencari tahu informasi tentang orang yang mau kita follow up supaya kita juga bisa menyiapkan strategi penjangkauan yang tepat.
#4. Paulus berusaha membangun komunikasi (relasi) dengan bertukar pikiran dengan orang-orang yang ada di temptat ibadah dan juga orang-orang yang bisa dia jumpai di pasar. Apakah kita juga membangun relasi dengan orang yang ada di luar dinding gereja dan bukan hanya yang ada di dalam gereja. Apakah kita bersedia juga keluar dsri kenyamanan kita dan tekun mencari orang baru untuk bisa kita jumpai dan bertukar pikiran dengan kita?
#5. Apa yang kita percakapkan (tukar pikiran) ketika kita bertemu denga  orang-orang? Lelucon? Gosip? Berita? Bola? Makanan? Omongin orang lain? Atau kita sibuk membritakan Injil, membritakan kesaksian apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita dan apa yang mau Dia kerjakan kepada hidup orang yang kita jumpai. Apakah percakapan kita membangun hidup seseorang atau malah menaruh benih perpecahan dan mematikan semua potensi rohani dalam hidup seseorang?
#6. Tuhan bisa pakai hal simpel apa saja untuk menjangkau orang. Bisa lewat tukar pikiran, berbicara, menolong orang dan lain-lain. Belajarlah memperhatikan orang lain, Mari bangun relasi dengan orang yang belum percaya, dan minta Roh Kudus bekerja menjamah hati orang tersebut.

PRAYER
Tuhan pertemukan aku dengan orang-orang yang membutuhkan kasihMu. Ketika aku di rumah, sekolah, kampus, kantor, dan dimana saja. Buka kesempatan dimana aku dapat berbicara dan bertukar pikiran dengan seseorang dan Roh Kudus Engkau menuntun pembicaran itu sampai kepada Kabar Anugrah Keselamatan dalam hidup orang tersebut. Engkau menjamah, mengubah dan bekerja dalam hati orang tersebut jauh sebelum kami bertemu. Sehingga hatinya boleh percaya dan mulutnya boleh mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, Raja dan Juru Selamat dalam hidupnya. Aku tahu tidak ada yang namanya kebetulan, tetapi semuanya betul, Engkau turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Terima kasih Yesus. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s