Tegurlah!

SCRIPTURE

1 Korintus 5:1-2 (TB)

1. Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya.

2. Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu?

OBSERVATION

Dari perikop ini kita dapat menemukan fakta bahwa jemaat di Korintus berada dalam kondisi memprihatinkan, karena:

  1. Ada di antara orang-orang Kristen melakukan perbuatan memalukan, yang bahkan tidak dilakukan oleh orang kafir sekalipun, yaitu tidur dengan ibu tiri sendiri (ay. 1)
  2. Kesombongan rohani (ay. 2,6). Jemaat Korintus merasa bangga karena menganggap sikap mereka menerima orang-orang yang melakukan percabulan dalam komunitas jemaat adalah suatu kemajuan.

INTERPRETATION

Bagaimana sikap orang biasanya ketika ia ketahuan berbuat dosa? Ada yang langsung merasa bersalah dan mohon ampun kepada Tuhan atau mohon maaf kepada sesamanya. Ada juga orang yang jadi merasa malu lalu menghindari pertemuan dengan orang lain. Namun ada juga yang membela diri sedemikian rupa untuk menutupi kesalahannya, di samping ada juga yang merasa tidak peduli.

Seperti kita telah ketahui, jemaat Korintus menyombongkan keadaan dan kerohanian mereka. Namun Paulus mengetahui bahwa di dalam jemaat terdapat anggota yang berbuat tidak senonoh, yaitu hidup dengan isteri ayahnya (1 Korintus 5:1). Begitu buruknya perbuatan ini sehingga Paulus berkata bahwa orang yang tidak mengenal Allah saja tidak melakukannya (1 Korintus 5:1). Yang lebih parah, saudara-saudara seimannya yaitu jemaat Korintus tampaknya diam saja.

Mereka tidak memberikan teguran kepada pria itu ataupun mendisplinkan dia. Mereka malah membanggakan diri, mungkin karena merasa telah melakukan apa yang baik, dengan tetap mengasihi dan menerima pria itu apa adanya, tanpa memperhitungkan dosa-dosanya (1 Korintus 5:2).

Mereka jelas telah memiliki konsep yang salah tentang kasih, dosa dan hukumannya. Maka selanjutnya Paulus mengingatkan mereka untuk tidak membiarkan pria itu tinggal di tengah-tengah mereka sebagai tindakan disiplin yang harus dilaksanakan.

Kita memang harus mengasihi dan menerima setiap orang apa adanya. Namun sebuah tindakan disiplin yang dilakukan terhadap saudara seiman yang berbuat dosa, sebenarnya juga merupakan wujud kasih, dengan maksud untuk mengembalikan yang salah ke jalan yang benar, demi kebaikan mereka.

Hal penting yang harus orang Kristen cermati adalah bahwa kondisi ini selain merusak kesaksian kekristenan, juga melemahkan iman orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Paulus menekankan bahwa dosa harus dibenci, dan orang yang berdosa harus didisiplin. Disiplin yang dijatuhkan semata- mata untuk menjaga kekudusan warga jemaat secara pribadi dan seluruh jemaat.

Maka tindakan mendisiplin umat yang berbuat dosa hendaknya tidak dihapuskan dari peraturan gereja. Allah sangat serius menghadapi dosa, kita sebagai pengikut-Nya pun harus bersikap sama. Tak perlu takut gereja kita akan kehilangan atau kekurangan jemaat karena hal itu. Kita harus menjunjung tinggi kebenaran Allah serta kekudusan-Nya dalam kehidupan kita berjemaat.

APPLICATION

Dosa harus ditelanjangi, pendosa harus digembalakan dan dibimbing untuk bertobat. Kita semua harus ikut bertanggung jawab untuk saling menjaga kekudusan jemaat.

PRAYER

Mari kita doakan saudara/saudari kita yang kemudian hidupnya tidak tertib lagi diluar kehendak Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s